Komunisme Menghancurkan Keharmonisan Keluarga

ANTIKOMUNISME.COM, NGAWI. Rumah tua dan bangunan masjid yang berada di depannya seakan menjadi saksi bisu keganasan PKI. Peristiwa Loji Gebung di Desa Katikan, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi pada September 1948, merupakan peristiwa kelam yang sulit pupus dari kehidupan masyarakat Ngawi. Loji adalah sebuah rumah besar peninggalan kolonial Belanda. Gebung adalah nama sebuah dukuh di mana loji itu berada. [su_pullquote align=”right”][su_gmap width=”400″ height=”300″ address=”katikan. kedunggalar, ngawi”][/su_pullquote]

Saat Antikomunisme.com berkunjung ke Dukuh Gebung (Rabu,1/6), melalui seorang perantara dipertemukan dengan sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Sahri Budhiwiyono, demikian nama laki-laki yang nyaris berusia 90 tahun ini biasa disebut, adalah anak Sumardi, salah seorang korban yang selamat dari kebiadaban kaum komunis.

“Komunis itu suka memecah belah keluarga,” kata Sahri. “Kakak dan adik dalam satu keluarga bisa saling bermusuhan. Kakak kandung saya dihasut komunis sehingga memusuhi saya,” kenangnya. Hasutan pun tak sampai di situ. Adik iparnya pun dihasut pula untuk membenci Sahri. Padahal, mereka bertiga awalnya hidup rukun sebagai keluarga.

Sahri tidak menduga sama sekali bahwa di balik peristiwa Loji Gebung di antara otaknya adalah kakak dan adik iparnya. Saat ayahnya disiksa, diseret dan diinjak-injak, dengan mata kepala sendiri Sahri melihat kakak dan adik iparnya berada di tengah-tengah orang-orang PKI. Sahri tak mengetahui selama ini kakak dan adik iparnya telah terasuki komunisme. Sungguh, dirinya tidak menyadari, yang selama ini hidup bersama dalam satu keluarga, ternyata menjadikan ayah dan dirinya sebagai lawan berseteru. Kakak dan adik iparnya telah dihasut untuk membunuhnya.

Namun, dengan pertolongan Allah Ta’ala, Sumardi berhasil meloloskan diri dari loji yang saat itu telah dibakar massa PKI. Beberapa temannya selamat saat melompati api yang membara. Sebagian lagi tersangkut ranjau-ranjau yang dipasang di balik kobaran api. Sumardi sempat dikejar orang-orang PKI. Ia lari ke Walikukun, yang jaraknya sekitar 15 km dari Gebung, Kedunggalar.

Kini Sahri hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang getir. Ia masih mengkhawatirkan keselamatan diri dan keluarganya. Terlebih, saat para pelaku aksi Loji Gebung masih ada yang hidup. Kini, yang menjadi tetangganya adalah anak keturunan pelaku Loji Gebung. Sahri pun menyimpan trauma. (abulfaruq ayip syafruddin)


Buku sejarah tentang Komunisme: Bahaya Laten Komunisme di Indonesia

One Comment

  1. Pingback: Komunisme Mengancam Agama dan Bangsa (bag. 1) - Anti Komunisme

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *