Pertaubatan Mantan Aktivis PRD

ANTIKOMUNISME.COM, DEPOK. Sambil tangan mengepal, ia acungkan ke atas seraya meneriakkan kalimat perlawanan. Anak muda itu terbakar semangatnya. Ia tak lagi memedulikan sepasukan Brimob yang berdiri mengitarinya. Semangat anak muda itu meletup saat Budiman Sudjatmiko, pimpinan Partai Rakyat Demokratik (PRD), ke luar dari ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Saat suasana telah dipenuhi aroma anarkis, anak muda itu berjalan menyusuri trotoar. Pihak aparat berbaju preman pun menguntitnya. Merasa dikuntit, anak muda itu coba mencari tempat aman. Ia pun lari. Aparat pun mengejarnya. Dirinya tak berhitung bahwa dengan lari orang-orang mencurigainya sebagai pelaku kriminal. Malang tak dapat ditolak, untung tak bisa diraih. Saat ia berlari ke arah sebuah plaza, satpam pun menangkapnya. Lalu, aparat berpakaian preman yang mengejar di belakangnya, mencokoknya. Anak muda itu digelandang ke markas Kodim.

Abu Hasan, demikian sebutan itu melekat padanya, adalah seorang mantan aktivis PRD. Kisah penangkapan pihak aparat terhadap dirinya masih melekat kuat dalam ingatannya. “Saat itu, yang ada dalam benak pikiran saya dan teman-teman adalah melawan Soeharto,” katanya mengenang masa lalu. Saat ditemui Antikomunisme.com di sebuah masjid di kawasan Depok (Sabtu, 4/6), Abu Hasan banyak berkisah tentang petualangannya sehingga mengagumi ajaran marxisme-sosialisme. Karenanya, ia bergabung bersama anak-anak muda sehaluan PRD, seperti Forkot (Forum Kota), Jarkot (Jaringan Kota) dan para mahasiswa yang berhaluan kiri.

Bagi para aktivis yang telah tersuntik paham komunisme, gerakan reformasi yang menurunkan Soeharto dari kursi kekuasaannya, merupakan gerakan yang bisa ditunggangi untuk melepas dendam. Bagaimana tidak. Lantaran perintah Soeharto, Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta kaki tangannya dilarang hidup di bumi Nusantara ini. Jadi, pantas apabila generasi pelanjut perjuangan komunis sangat antusias memanfaatkan gerakan reformasi saat itu. Gerakan reformasi ditunggangi banyak pihak.

Saat melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Soeharto, ia berhitung atas dirinya. “Hanya ada tiga kemungkinan, yaitu selamat, cacat, atau mati diculik,” pikirnya saat itu. Karena doktrinasi yang kuat, ia tak hiraukan risiko terburuk bakal menimpanya. Semangatnya untuk mendongkel penguasa sedemikian membaja. Kata yang hidup dalam kamus jiwanya, hanya lawan, lawan, dan lawan!

Seiring waktu berlalu. Abu Hasan mulai merasakan kehampaan pada dirinya. Ada sesuatu yang hilang dalam batinnya. Ia pun mencari. Ia datang ke Petamburan. Sebuah organisasi massa di sana coba ia sentuh. Namun, tak memuaskan batinnya. Ia coba mencari lagi dan terus mencari. Akhirnya, Allah Ta’ala mengarahkannya kepada seseorang yang kemudian menuntunnya mendapat ajaran Islam yang baik dan benar.

Abu Hasan telah berganti baju. “Pakdhe, saya sudah ganti baju. Baju saya sekarang agama, bukan lagi marxisme,” ucapnya saat menemui sang sesepuh berhaluan kiri. Mantan aktivis PRD itu pun kini mulai menata hidup. Ketenangan hidup semakin kuat ia rasakan setelah mempelajari Islam secara benar. Berbagai kerancuan berpikir akibat doktrin marxisme-sosialisme mulai memupus. Termasuk di antaranya doktrin melawan penguasa. Ia bertaubat dari semua itu. Ia temukan makna hidup sebenarnya di dalam Islam. Marxisme-sosialisme yang selama ini digeluti, ternyata tak membuahkan kebaikan. Marxisme-sosialisme yang selama ini menjadi haluannya, ternyata gagal memberi arah. Justru yang ia rasakan, setelah mempelajari marxisme-sosialisme, hanya kegersangan batin. (abulfaruq ayip syafruddin)

One Comment

  1. tapi beliaunya (budiman sujatmiko) apa masih menjadi anggota DPR dari fraksi PDIP? karena partai ini masih menjunjung tinggi sukarnoisme yang kekiri-kirian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *