Anak Muda Kita

ANTIKOMUNISME.COM, PURBALINGGA. Kita akan tua. Ya, bila Allah kehendaki umur sampai tua. Para pemuda mengantre siap menggantikan. Beban sejarah bertumpu pada rotasi tua-muda. Ada regenerasi. Ada yang hidup dan mati. Silih berganti. Sementara pena tak pernah lari. Selalu terpatri kisah hari ini, dan proyeksi masa depan nanti.

Apa warisan pada para pemuda, wahai manusia yang menuju tua?

“Anak muda hari ini adalah pemimpin masa depan…” Kalimat penegasan tersebut diucapkan Kabag Kesra Setda Kabupaten Purbalingga, Mohammad Nurhadi. Beliau Mewakili Bupati Purbalingga, H Tasdi SH MM, pada sambutan acara dauroh ahlussunnah bertema: Indonesia Damai Tanpa Komunisme-Radikalisme-Liberalisme  di Masjid Agung Daarussalaam, Purbalingga, Ahad, 18 September 2016.

Perhatian aparatur pemerintah pada pemuda patut diapresiasi. Ucapan di atas mengandung makna simbolis sekaligus khusus. Simbolis, bahwa Bapak Kabag Kesra sadar dirinya menuju umur tua. Ada orang-orang muda di belakang siap menggantikan secara sosok atau figur.

Pesan secara khusus, Kabag Kesra ingin penerus estafet kepemimpinan daerah lebih baik dari diri dan generasinya. Ini selalu jadi perhatian setiap orang tua yang bijak; memikirkan siapa dan bagaimana penerus yang bakal menggantikan; resah, pemudanya sehat akidah dan ideologi atau tidak.

Bukan orang tua yang sekadar siap modal harta. Berangan-angan generasi selanjutnya bakal lebih baik. Tanpa ikhtiar bekal ilmu dan pengetahuan agama. Ada harapan besar di pundak pemuda masa sekarang. Agar kelak menjadi pemimpin sekaligus anggota masyarakat yang berkualitas.

Kualitas dari sudut pandang seorang muslim. Tampil generasi muda yang bersih akidah dan ideologi. Menjunjung tinggi keesaan Allah (tauhid). Menjauhi pelbagai bentuk kesyirikan dan kebid’ahan. Menjalani syariat agama sesuai petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Pemuda calon pemimpin masa depan. Harus berideologi, ber-manhaj, dan berpikir, sesuai garis syariat. Selamat dari ajaran menyimpang semisal komunisme, radikalisme, dan liberalisme.

Sebagai GMT – Generasi Menuju Tua – kita harus berjibaku mengenyahkan akidah dan ideologi yang tak sesuai bimbingan syariat. Supaya generasi muda muslim tak terpapar virus jahatnya. Sehingga generasi muda harapan Kabag Kesra dan orang tua muslim umumnya, bisa mewujud menjadi penerus yang lebih baik.

Bukankah ketika kita mewariskan kebaikan, besar harapan di belakang kita akan mengikuti jejak kebaikan itu? Insya allah, bila kita juga menjaga jejak tersebut dengan keteladanan dan contoh nyata. Bukan sebatas wacana di atas kertas. Atau retorika di atas podium.

Gelaran daurah anti-komunisme, radikalisme, dan liberalisme, di banyak daerah nusantara, didukung penyebaran majalah kontra hal di atas, merupakan cetak biru perjuangan riil menjaga akidah dan ideologi kaum muda Indonesia.

Sebagaimana disampaikan Ustad Abu Hamzah Yusuf dalam materi dauroh, nikmat terbesar kedua setelah iman Islam yang wajib disyukuri adalah nikmat keamanan dan kedamaian. Ini bisa didapat ketika generasi muda tidak terjangkiti penyakit komunisme-radikalisme-liberalisme. Tiga hal ini di antara penyebab biang kekacauan dan pertumpahan darah. Tidak hanya di negeri kita, tapi juga belahan bumi lain. Terutama komunisme-liberalisme.

Ketika generasi muda sekarang jauh dari ilmu agama, berkubang dalam kemaksiatan, asyik menjadi individu asosial yang sibuk dengan gadget terbaru, kita wajib waspada dan mengencangkan imamah. Harus jadi perhatian dan kekhawatiran.

“Hati-hati dengan segala akidah yang menyimpang. Pembenahan akidah dan ideologi, menjadi tugas penting yang harus dilakukan bersama-sama. Jaga persatuan dan kesatuan kaum muslimin,” tutur Ustadz Abu Hamzah Yusuf, pengasuh Pondok Daarul Atsar, Tasikmalaya.

Anak muda, sibuklah mendalami ilmu agama. Bersemangatlah menghafal Alqur’an dan hadits nabi. Pelajari bahasa Arab. Besarkan asa kami para orang tua, akan lahirnya generasi muda muslim yang mumpuni. Generasi tentara Allah yang sekuat tenaga membela tauhid serta sunnah dengan ilmu. Bukan dengan lemparan botol kecap yang tersumpal sumbu berbensin.

 Generasi mendatang, semoga lupa atau tidak lagi mengenal senandung cengeng para biduan. Syair grup-grup yang mengajak pada kemaksiatan serta kekotoran iman. Tapi menjadi pemuda saleh yang kerap bertasbih, tahmid dan bertakbir. Allahu Akbar… (Abu Ali Rona, Cirebon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *