Komunisme Tidak Pernah Mati

ANTIKOMUNISME.COM, PURBALINGGA. Kedamaian adalah sebuah kenikmatan. Kenikmatan yang diinginkan dan dicari semua orang. Orang tua, orang muda, orang miskin, orang kaya semuanya mendambakan kedamaian. Kedamaian adalah salah satu penyebab yang membuat kewajiban bisa ditunaikan dan hak pun terbayarkan.

“Bahkan bagi kaum muslimin secara khusus, tidak ada nikmat yang lebih besar setelah islam dari nikmat ini. Nikmat yang dimaksud, nikmat keamanan dan kedamaian,” papar Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf di Kajian Islam Ahlussunnah Purbalingga yang berlangsung pada 16 Dzulhijjah 1437 H bertepatan dengan 18 September 2016.

Kajian Islam Ahlussunnah yang bertempat di Masjid Agung Darussalam tersebut mengambil tema “Indonesia Damai Tanpa Komunisme, Radikalisme, Liberalisme”. Sebuah tema yang penting, karena tidak ada kehidupan yang berarti tanpa adanya keamanan dan kedamaian. Makanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika meminta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar negerinya diberikan rejeki yang melimpah, beliau ‘alaihissalam sebelumnya meminta agar diberikan keamanan.

Itu berarti, segala bentuk gangguan keamanan tidak boleh diberikan tempat di negeri ini. Apalagi radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama. Selain membuat kerusakan, hal tersebut juga menyesatkan pemahaman tentang agama islam yang sejatinya merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Pun begitu komunisme.

“Komunis memiliki ideologi pemberontakan. Mereka ketika ingin menguasai sebuah negara, maka cara yang mereka lakukan adalah melakukan pemberontakan. Masih segar di ingatan kita beragam peristiwa-peristiwa yang coba mereka lakukan sejak tahun 1926. Ini menandakan bahwa komunis adalah ancaman yang sangat berbahaya yang mengancam keutuhan bangsa dan negara. Mengancam keamanan dan kedamaian,” papar ustadz yang juga sebagai pengasuh Mahad Daarul Atsar, Tasikmalaya itu.

Beliau kemudian memberikan contoh tentang kekejaman orang-orang berideologi komunis yang bergabung di Partai Komunis Indonesia di masa lalu. Semisal penyerbuan mereka ke sebuah pondok pesantren di daerah Kanigoro, Kediri pada tahun 1965. Mereka dengan biadab menyerang santri, menyiksa kyai, merusak masjid dan melakukan penghinaan atas kitab suci al-quran.

Di tahun yang sama di daerah Cemetuk, Banyuwangi. Mereka dengan licik menyamar sebagai anggota GP Anshor. Mereka undang kaum muslimin dalam sebuah perjamuan makan yang mengandung racun yang mematikan.

Lebih lanjut Ustadz mewanti-wanti, jangan menganggap bahwa komunisme itu kisah lalu dan tak akan terulang lagi. Sebab komunisme itu sebuah ideologi. “Ideologi itu tidak akan pernah mati. Ideologi akan tetap ada. Mungkin saja orang-orangnya sudah meninggal dunia, tetapi generasi baru dari komunis tetap ada,” tutur Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf.

Makanya, Kajian Islam Ahlussunnah yang berlangsung dua sesi tersebut mendapat sambutan yang bagus dari aparat pemerintahan setempat. Bahkan rencananya Bupati Purbalingga, Bapak Tasdi SH, MM berkenan hadir untuk memberikan sambutan. Pun begitu Bapak Dandim dan Bapak Kapolres. Qodarullah wa maa syaa’a fa’ala, karena ada keperluan dan acara mendadak, beliau-beliau urung hadir namun tetap mengirimkan perwakilannya. (Abu Zakariyya Tabroni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *