Komunis Sudah di Akhirat?

ANTIKOMUNISME.COM. Komunis sudah di alam akhirat. Komunis adalah masa lalu. Komunis adalah hantu warisan Orde Baru. Adalah sederet klausa yang nyaring disuarakan saat ada reaksi atas pelbagai peristiwa yang tajam dengan bau komunisme.

Kesimpulan yang hendak ditangkap, PKI hanya bagian dari sejarah namun tak pernah berlumur darah. Bahkan dengan menenteng versi lain sejarah, PKI hanyalah korban. Siapa yang mengungkap versi tersebut, benar-benar sejarawan atau bukan, didukung data atau tidak, menjadi tidak penting. Karena angin “reformasi” yang hingga kini masih bertiup, menjadikan apa-apa yang bertentangan dengan Orde Baru termasuk versi sejarah, sebagai sebuah kebenaran mutlak. Malah, peristiwa pemberontakan Madiun oleh PKI Musso dan Gerakan 30 September oleh PKI Aidit, dianggap basi dan bukti usang yang selalu diulang-ulang.

Reformasi memang re-formasi yang bikin miris hati. Siapa kawan siapa lawan sudah demikian abu-abu, sulit ditentukan “formasi”-nya. Siapa pahlawan dan siapa pecundang saja sudah membuat bingung. Yang ada justru penumpang (gelap) reformasi yang sama-sama punya kepentingan untuk melawan Orde Baru, lantas duduk di gerbong kepentingan yang sama. Begitu Orde Baru tumbang, tampaklah agenda masing-masing penumpang. Ada yang haus kekuasaan, ada yang cari selamat, ada yang dendam sejarah, dan lainnya.

Motif dendam sejarah inilah yang tengah diusung sisa-sisa kekuatan komunis di Indonesia. Kekuasaan tak lupa jadi tujuan karena segala cara adalah halal bagi komunis. Dendam sejarah ini yang bikin gerah karena begitu latah. Asal berbeda dengan Orde Baru okelah. Muncullah dengan instan, nama-nama yang disebut sebagai “ahli sejarah”. Mirip dengan modus pencitraan para tokoh politik. Asal beda, syukur-syukur bisa merehabilitasi “nama baik” PKI, apa yang dikemukakan sang “sejarawan instan” diamini begitu saja. Tak penting kalau ternyata “sejarawan” yang dipuja-puji itu juga anasir komunis.

Sejarah “versi lain” juga mewujud dalam beberapa film atau dokumenter. Sebutlah Lestari, Senyap, dan Jagal yang tentu saja membela habis-habisan PKI. Suara pegiat HAM pun bisa ditebak. Mereka lebih membela “korban imajiner” yang katanya jutaan daripada korban nyata rakyat Indonesia yang jadi korban kekejian PKI.

Reaksi kelompok antikomunis—yang oleh prokomunis, gerakan kiri, dan yang satu spesies dengannya—disebut sebagai kelompok konservatif nan reaksioner, sejatinya sangat beralasan. Potensi makar itu jelas ada. Kalau PKI itu sekadar masa lalu, mengapa ada kongres PKI di tahun 2000 (Kongres VIII di Sukabumi), 2006 (Kongres IX di Cianjur), dan 2010 (Kongres X di Magelang), atau temu raya eks tapol PKI di tahun 2003? Kalau ancaman PKI dianggap potensi imajiner, mengapa penyebaran dan propaganda paham komunis melalui buku, majalah, dan tulisan-tulisan demikian marak?

Jauh sebelum itu, menjelang Orde Baru tumbang, banyak bertumbuhan gerakan mahasiswa yang mengusung ideologi kiri seperti Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang kemudian menjadi Front Rakyat Demokratik (FRD) sebelum menjelma menjadi PRD (Partai Rakyat Demokratik)—yang pentolannya menyusup ke parpol lain? Juga bermunculan organisasi di lini lain seperti Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER) dan Serikat Tani Nasional (STN)? Ini belum termasuk bertebarannya beragam tabloid provokatif yang tak sekadar mengobok-obok Orde Baru tapi juga bekerja keras menghilangkan jejak kotor PKI dari sejarah.

Versi apa pun tentang keterlibatan PKI dalam dua peristiwa besar pemberontakan setelah Republik ini berdiri, tetap saja terlampau banyak saksi hidup yang mengamini bukti tentang kekejian PKI. Silakan tanya kepada buyut, eyang, kakek, atau nenek kita yang masih hidup, apakah kader/simpatisan PKI tempo doeloe adalah pribadi yang ramah dan santun? Jawabannya tentu saja tidak.

Diakui apa tidak, pemberontakan PKI Madiun dan G30 S/PKI hanyalah puncak gunung es. Itu yang tampak dan sering diulang-ulang dalam pelajaran sejarah. Tapi ratusan peristiwa “kecil” yang tak kalah berdarah-darah dengan anasir-anasir PKI sebagai pelakunya, tidak pernah diperhitungkan oleh para pegiat HAM dan pemuja mimpi kuburan massal.

Lupakah kita dengan pembunuhan dan pembantaian secara sistematis terhadap kiai, pejabat pemerintah, warga Nahdliyin, warga Muhammadiyah, aktivis Pemuda Ansor, dan rakyat secara umum di berbagai kota dan daerah? Kebetulan? Teramat naif jika kita menyamakan simpatisan “haus darah” PKI dengan simpatisan partai lainnya? Kemudian berteriak secara lantang, karena sama dengan simpatisan partai lainnya, mereka dianggap tidak tahu apa-apa, tidak layak untuk ditangkap? Siapa yang fobia?

Tuduhan kuburan massal nyatanya juga tidak pernah terbukti. Sama seperti tuduhan adanya pemerkosaan massal terhadap ribuan wanita etnis Cina saat kerusuhan Mei 1998, yang digambarkan demikian hiperbolis. Operasi pemulihan keamanan, pasca-G30S/PKI digambarkan sebagai pembunuhan besar-besaran di berbagai daerah terhadap para anggota dan simpatisan PKI. Disebutlah sebuah angka fantastis, lebih dari dua juta orang meninggal. Lebih fantastis lagi (baca: keblinger), ada logika dangkal yang membandingkan korban kekejaman PKI yang katanya “hanya” ribuan dengan korban kekejaman pemulihan keamanan tahun 1965 yang mencapai jutaan (walaupun masih dalam mimpi), lantas kita diajak untuk bersimpati dan berempati kepada PKI?

Anak cucu PKI (baik biologis maupun ideologis) ataupun pemuja PKI, boleh gerah bahkan fobia (Orde Baru) sekalipun. Tapi data dan bukti ilmiah harus dikedepankan. Jangan sampai kuburan massal sebatas dongeng yang diciptakan untuk menutupi fobia, karena begitu gerah dengan kewaspadaan umat Islam dan TNI/Polri yang tinggi dalam membendung komunisme. Atau jangan-jangan PKI memang tengah paranoid, takut “tingkat dewa” karena belum apa-apa sudah diberangus?

Jika ada sweeping atribut PKI yang salah sasaran seperti menyita kaos band Kreator, salah satu band thrash metal asal Jerman yang salah satu albumnya ada gambar palu arit, mengapa harus dibesar-besarkan, kemudian menuding ada fobia dari TNI/Polri? Berapa banyak sih yang tahu band Kreator dari 200 juta-an rakyat Indonesia, lebih-lebih kemudian tahu cover albumnya yang kesekian? Taruhlah seluruh rakyat Indonesia tahu ada band metal bernama Kreator, apakah sweeping ini sekadar dianggap meributkan sebuah gambar atau simbol lantas menjadi alasan untuk menyurutkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya komunisme? Uni Soviet sebagai negara asal-usul komunis memang sudah bubar, tapi siapakah yang bisa menjamin bahwa sisa-sisa kekuatan komunis sudah habis?

Permasalahan mengenai ekonomi, kesejahteraan, dan pendidikan rakyat memang penting, tapi tidak dengan cara mengerdilkan peran PKI dan menghapus kekejamannya dari sejarah. Disintegrasi adalah musuh nyata dan ancaman besar, tapi ancaman komunisme juga bukan gertak sambal ala anak kecil.

Bicara PKI bukan soal tabu atau tidak, tapi soal ancaman nyata yang terekam kuat pada ingatan generasi tua kita, terutama mereka yang menjadi penyintas (korban kekerasan atau kekejaman PKI di masa lalu). Makin nyaring gerakan antikomunis, kian bikin komunis islamfobia dan kesurupan hantu kuburan massal. Jangan kita dininabobokan oleh dongeng-dongeng versi komunis di tengah kita. Ancaman komunis masih relevan diangkat untuk meningkatkan integrasi dan kewaspadaan nasional dalam kita bernegara dan bermasyarakat.

Ingat, komunis belum di akhirat. Tapi dia tengah sekarat. Saat para kamerad tikus merah ini kuat, orang-orang yang berseberangan dengan komunis, jelas bakal dibabat. Mau? (anf)

One Comment

  1. Pingback: Komunis Sudah di Akhirat – Sampit Sunnah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *