Hidup Aman dan Harmonis Tanpa Komunisme

ANTIKOMUNISME.COM, SUKOHARJO (24/09/2016). Menilik sejarah wilayah Weru, Sukoharjo, Jawa Tengah, tidak sedikit masyarakat di sana yang terpengaruh bahkan aktif terlibat di dalam kegiatan-kegiatan PKI pada masa tahun 1965-an. Beberapa saksi hidup memberikan pernyataan tentang keberadaan sebagian masyarakat Weru yang menjadi tahanan politik dan diasingkan ke pulau Buru.

Sebagai upaya untuk membentengi umat dari bangkitnya komunisme kembali, Pondok Pesantren Ittibaus Sunnah menyelenggarakan Tabligh Akbar dengan judul “Hidup Aman dan Harmonis Tanpa Komunisme”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 24 September 2016.

Bertempat di Masjid Al Falah yang terletak di komplek kantor KUA Kecamatan Weru, kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu usaha untuk menyambung tali sejarah. Ketua panitia, Medi menjelaskan tujuan kegiatan ini, ”Sebagai bentuk pendidikan dan pelajaran berharga bagi generasi muda yang kurang atau bahkan belum mengetahui sejarah dan paham komunisme”.

Panitia menghadirkan dua pemateri sekaligus, yaitu Ustadz Ayip Syafrudin dan Ustadz Mukhtar. Ustadz Ayip selaku pemateri pertama menyampaikan sejarah komunisme dari masa ke masa. Sementara Ustadz Mukhtar banyak berbicara tentang bentuk-bentuk ideologi komunisme yang berkembang di masyarakat.

Kegiatan tersebut memperoleh dukungan penuh dari aparat keamanan, baik TNI maupun Polri. Sebagai wujud dukungan, pihak Polsek kecamatan Weru yang lokasinya berseberangan jalan dengan lokasi tabligh akbar, mempersilahkan halaman Mapolsek sebagai tempat parkir roda empat. Beberapa anggota Polsek juga terlibat aktif dalam pengaturan arus lalu lintas.

Serka Sugiono, Babinsa kecamatan Weru menyatakan, ”Kami sangat mendukung dengan sangat kuat terhadap acara yang panjenengan-panjenengan adakan saat ini”. Adapun anggota Babinsa lainnya, yaitu Serda Suranto menegaskan, ”Kami mendukung kegiatan ini dan terus mensosialisasikan bahaya komunis. Intinya, kita harus bersatu supaya tidak terpecah belah.”.

Kegiatan tabligh akbar ini berlangsung dengan tertib dan lancar. Ratusan peserta terlihat seksama di dalam mendengarkan pemaparan yang disampaikan oleh kedua pemateri.Kegiatan yang dimulai sejak pagi hingga siang tersebut menurut sebagian peserta harus terus diselenggarakan. Seorang peserta mengatakan, ”Masih banyak umat Islam yang masih belum menyadari bahaya laten komunisme.”. Panitia berjanji untuk menindaklanjuti saran dan masukan dari peserta tersebut. (helga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *