Islam Kiri; Sintesa Yang Mustahil

Banyak nama coba disandingkan oleh mereka yang memimpikan sintesa antara Islam agama wahyu dengan prinsip-prinsip Karl Marx sang anak Yahudi. Ambil contoh Hassan Hanafi. Cendekia kelahiran Mesir lulusan Universitas Sorbonne Perancis ini menulis dalam jurnalnya “Yasar Al-Islamiy” (Kiri Islam); “Revolusi Moral (moral revolution) terjadi untuk memperjuangkan harkat dan martabat strata tertindas dengan tujuan untuk mencapai persamaan (egalitarian) dan keadilan manusia agar sejajar satu sama lain”. Inilah sesungguhnya—menurut dia—secara teologis, adalah misi diciptakannya manusia sebagai Khalifah fil Ardh. Benarkah?

Perjalanan pemikiran Hassan Hanafi dimulai ketika aktif di diskusi-diskusi Ikhwanul Muslimin semasa duduk di Madrasah Tsanawiyah. Itu sangat berbekas sehingga, lambat laun pemikiran Sayyid Quthb tentang keadilan sosial merasuk, menjadi pemicu baginya bergelut dengan aktivitas ideologi dan intelektualitas.

Hasilnya, istilah kontrovesial “Min Al Aqidah ilaa At Tsawrah”(dari Aqidah Menuju Revolusi), ditulis pada 1981, menyerukan kebangkitan Islam atas hegemoni Barat sekaligus upaya menyadarkan ummat untuk mengadakan revolusi internal maupun eksternal. Didasarkan pada konsep “kiri” sebagai kritisme religius dalam persoalan sosial-ekonomi yang berpangkal dari tataran normatif ke proaktif. Singkatnya, mencoba menggunakan pisau analisa Marxis untuk membedah Islam baik internal maupun permasalahan eksternal.

Idenya adalah untuk membangun kembali peradaban Islam, maka dibutuhkan revolusi tauhid. Sebuah manifestasi atas pelepasan penghambaan kepada selain Al Khalik kepada tauhid Al Ummah, transformasi pembebasan manusia kedalam sistem masyarakat tanpa kelas, egalitarianisme dan jauh dari eksploratif dalam semua sisi dimensi masyarakat. Mengangankan sebuah bentuk pemerintahan Islam dengan “ruh” Komunisme.

Khalifah Fil Ardh

Syariat Islam tidak mengajarkan renolusi apalagi menafsirkannya sebagai aplikasi dari tauhid. Tidaklah manusia menjadi Khalifah fil Ardh melainkan seperti Allah katakan dalam Al Qur’an,

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa tetap kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat ini,

“Ayat ini termasuk janji-janji Allah Azza wa Jalla yang (pasti) benar, yang telah disaksikan kebenarannya dan kandungan beritanya. (Allah Azza wa Jalla) telah berjanji kepada orang yang menegakkan iman dan beramal shalih dari kalangan umat ini bahwa Dia akan memberikan kepada mereka khilafah di muka bumi. Mereka akan menjadi para khalifah di atasnya, yang mengatur urusan-urusan mereka dan mengokohkan agama -yang mereka ridhai- untuk mereka, yaitu agama Islam yang telah mengalahkan seluruh agama karena keutamaan, kemuliaan dan kenikmatan Allah atasnya.

Mereka leluasa menegakkannya dan menegakkan syariat, baik yang lahir maupun yang batin, baik pada diri mereka maupun selain mereka. Sebab, para pemeluk agama selain (Islam) telah terkalahkan dan terhinakan. Allah Azza wa Jalla mengganti keadaan mereka dari rasa takut yang menyebabkan mereka tidak mampu menampakkan agama dan menegakkan syariat disebabkan gangguan dari orang-orang kafir, serta jumlah kaum muslimin yang sangat sedikit bila dibandingkan dengan selain mereka, dan seluruh penduduk bumi memusuhi dan menentang mereka dengan berbagai kerusakan.
Allah menjanjikan hal-hal tersebut untuk mereka pada saat turunnya ayat ini, namun kekhalifahan di bumi dan kekokohannya belum dapat disaksikan saat itu. Yang dimaksud dengan kekokohan adalah kekokohan agama Islam, keamanan yang sempurna di mana mereka hanya menyembah kepada Allah, tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu dan mereka tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Maka tegaklah generasi awal umat ini, dengan iman dan amal shalih yang menyebabkan mereka berada di atas umat lainnya, maka Allah kuasakan kepada mereka berbagai negeri dan manusia, serta dibukakan kekuasaan dari timur ke barat sehingga terwujud keamanan dan kekokohan yang sempurna.

Ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala yang menakjubkan. Dan hal tersebut akan senantiasa berlangsung hingga (mendekati) hari kiamat. Selama mereka menegakkan iman dan amal shalih pasti mereka akan mendapatkan apa yang telah Allah Azza wa Jalla janjikan untuk mereka. Namun terkadang orang kafir dan munafikin menguasai mereka dan mengalahkan kaum muslimin disebabkan kelalaian kaum muslimin dalam menegakkan iman dan amalan yang shalih.” (Taisir al-Karim ar-Rahman hlm. 573)

Sesungguhnya Islam itu hanya satu, tidak butuh untuk disandingkan dengan apapun, apalagi komunisme. Ia adalah agama yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya dengan kesempurnaan yang mutlak dan pungkas.

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Islam telah selesai menjawab segala problema hidup manusia dari segenap seginya. (Abu Luhaidan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *