Saudara Iblis

ANTIKOMUNISME.COM, SUKOHARJO. “Rafidhah (Syiah, Red.) bukan saudara kita. Mereka adalah saudaranya iblis,” begitu jawaban Syaikh Ubaid Al Jabiri hafizhahullah ketika ditanya apakah Syiah masih bisa dianggap sebagai saudara muslimin.

Syaikh Ubaid Al Jabiri hafizhahullah mengatakan, kalimat yang menyatakan Syiah sebagai saudara seagama merupakan ungkapan yang berbau politik. Bukan ungkapan syar’i, yang tidak dikenal dalam syariat Islam semenjak dulu. “Rafidhah bukan saudara Ahlussunnah,” ujar beliau.

Bagaimana mungkin Syiah disebut sebagai saudara seagama ketika mereka menyatakan Abu Bakar, Umar bin Khaththab dan sahabat lainnya radiyallahu ‘anhum sebagai orang-orang kafir? Bagaimana mungkin Syiah disebut saudara seiman ketika mereka mengklaim Al-Quran yang berada di tengah-tengah kita telah diubah? Bagaimana mungkin Syiah disebut saudara semuslim ketika mereka mengatakan Aisyah radiyallahu ‘anha istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berzina?

“Kata Syaikh Al Albani rahimahullah, Syiah itu bukan mazhab Islam. Akan tetapi Syiah itu agama tersendiri. Agama Syiah ada di satu sisi, sedangkan ajaran-ajaran Islam ada di satu sisi yang lainnya. Dengan demikian, Syiah dan Islam adalah dua jalan yang berbeda,” papar Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf hafizhahullah di Kajian Islam Ahlussunnah di Masjid Ibnu Taimiyah, Ma’had Daarus Salaf, Sukoharjo pada Ahad, 23 Dzulhijjah 1437H yang bertepatan dengan 25 September 2016M.

Demikian cuplikan kajian yang mengambil tema ‘Islam dan Syiah, Dua Jalan yang Berbeda’. Dalam kesempatan tersebut selain memaparkan kesesatan-kesesatan Syiah, Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf hafizhahullah juga mengingatkan tentang sebuah propaganda berbahaya yang bisa menyesatkan umat. Yakni propaganda yang menyebutkan bahwa Syiah dan Islam adalah agama yang sama. Syiah dan Islam cuma berbeda dalam beberapa hal. Syiah dinyatakan sebagai bagian dari Islam.

Padahal banyak hal yang membedakan antara agama Syiah dengan Islam, salah satunya masalah imamah (kepemimpinan). Sebab bagi orang Syiah, imamah merupakan masalah yang penting. Sampai-sampai imamah dijadikan salah satu rukun agama bagi mereka selain sholat, zakat, puasa dan haji.

Bagi orang Syiah, kepemimpinan merupakan tugas ilahi yang bersifat nubuwah. Tidak sembarang orang layak dijadikan pemimpin. Allah menghendaki siapa hamba-Nya untuk dijadikan rasul dan nabi. Allah juga yang menetapkan 12 imam yang layak menjadi pemimpin.

Makanya setiap pemerintahan yang dipimpin selain oleh 12 imam tersebut, dianggap sebagai pemerintahan yang bathil di mata Syiah. Pemerintahan semacam itu layak dikudeta, mereka tidak ridho dipimpin oleh orang yang tidak seideologi dengan Syiah. Mereka pun memvonis kafir bagi orang-orang yang menentang dan mengingkari keberadaan 12 imam tersebut.

“Bagi Syiah, tidak boleh ada ketaatan kepada pemerintahan yang tidak ditunjuk oleh Allah. Kecuali hanya sebatas untuk berpura-pura saja,” tutur Ustadz pengasuh Ma’had Daarul Atsar, Tasikmalaya itu.

Tidak mengejutkan jika kemudian Syiah senantiasa lekat dengan aksi pemberontakan. Semisal Revolusi Iran yang dipimpin Khomeini. Khomeini pun dengan lantang menghasung pemeluk Syiah untuk terus bersemangat melakukan revolusi. Khomeini tidak rela orang-orang menjadi pemimpin kecuali dari kalangan Syiah.

Sekian catatan hitam Syiah telah mereka toreh dalam lembar halaman sejarah. Mereka membuat teror dan keonaran serta membantai kaum muslimin di Iran, Syiria, Sudan, Bahrain, Nigeria dan Yaman. Kehormatan kaum muslimin diinjak-injak, harta benda mereka dirampok.

Persis seperti yang diinginkan kaum komunis. Mereka juga menghendaki pemerintahan yang seideologi dengan mereka. Sejarah telah mencatat bagaimana keberingasan Uni Soviet ketika itu kala menjajah wilayah Chechnya, Dagestan, Uzbekistan, Kazakhtan dan lainnya. Jutaan nyawa muslimin menjadi tumbal invansi Uni Soviet.

Partai Komunis di Cina dan rezim Komunis Khmer Merah di Kamboja juga telah menyiksa dan membinasakan ribuan orang di sana. Seperti halnya Partai Komunis Indonesia, yang telah membantai ribuan orang di kudeta yang mereka lakukan di Madiun pada tahun 1948.

“Syiah dan komunisme itu sama. Sama-sama pemberontak. Sama-sama teroris,” tegas Ustadz.

Syiah dan Islam adalah dua jalan yang berbeda. Sedangkan Syiah dan komunisme memiliki jalan yang sama. (Abu Zakariyya Thabrani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *