Mereka Menolak Tunduk

ANTIKOMUNISME.COM (1/10/2016). Bui tanpa jeruji. Demikian istilah ini dipopulerkan oleh eksil-eksil PKI yang hidup di luar negeri dengan ideologi mereka. Kisah mereka bagaikan novel. Terombang-ambing antara asa dan nestapa.

Chalik Hamid, dulu eks ketua Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di Medan sekarang menetap di Belanda. Cerita dibuka ketika ia mempelajari kesusasteraan di Tirana, Albania. Paska G 30 S / PKI semua paspor WNI di Albania dicabut oleh petugas KBRI yang datang dari Cekoslowakia (waktu itu) , karena kedutaan Indonesia di Albania dirangkap di sana. Selama 25 tahun dia tinggal di Albania. Tidak punya paspor dan hanya diberi izin tinggal. “

Dia sempat menulis puisi yang menentang rezim Orde Baru, di antaranya berjudul Kuburan Kami Ada Di mana-mana. Saat terjadi kekacauan di Eropa Timur pada awal 1990an, Chalik pindah ke Belanda dan menetap sampai sekarang.

September 1965, Sungkono berada di Moskow belajar teknik mesin. Dia dikirim oleh Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan sejak 1962. Pascamakar 30 September, Kedutaan Indonesia di Moskow mengumpulkan mahasiswa Indonesia untuk di-screening dengan berbagai pertanyaan, antara lain bagaimana sikap mereka terhadap G 30 S/PKI. ”Saya jawab saya tidak tahu menahu karena saya di luar negeri,” pungkasnya.

Juni 1966, mulai ada jawaban terhadap mahasiswa yang di-screening. Dia termasuk yang dicabut paspornya secara kolektif, alasannya karena disangsikan kesetiaannya terhadap pemerintah Indonesia. Pemerintah Uni Soviet saat itu memberi kesempatan sampai selesai tahun 1967, dan dia sempat ditawari untuk bekerja dan tinggal di sana.

Keluar dari Uni Soviet, dia pindah ke Belanda (sampai sekarang). Pada 1987, dia mendirikan Perhimpunan Persaudaraan Indonesia yang istilahnya “untuk memelihara hubungan kekeluargaan kami yang berada di luar negeri, khususnya di Belanda.”

Ibarruri Sudharsono Aidit, mungkin orang akan asing dengan namanya. Namun, begitu nama ayahnya disebut, pasti mereka ingat. Anak dari tokoh PKI DN Aidit ini menceritakan kisahnya ketika kondisi stateless (tanpa kewarganegaraan). Sewaktu peristiwa 1965 terjadi, ia baru berusia 16 tahun dan sedang bersekolah di Moskow. Paspornya dicabut.

Paranoia warga Indonesia yang mengalami indoktrinasi selama puluhan tahun ini ia kemukakan pada acara soft launching situs 1965tribunal.org di Auditorium International Instituut voor Sociaal Geschiedenes (IISG) Amsterdam, 17 September 2014.

Sedikit berbeda cerita Sarmadji Sutiyo. Sebelumnya, Sarmadji bekerja di Departemen Pendidikan di Jakarta. Pada 1950, ia bergabung dengan Pemuda Rakjat, sayap pemuda PKI. Ia sekarang berusia kurang lebih 80 tahun. Ketika sedang kuliah di Beijing pada 1965, setelah G 30 S/PKI, paspornya dicabut. Ia kemudian pindah ke Belanda. Di Belanda, Sarmadji mendirikan “Perhimpunan Dokumentasi Indonesia” dan mengumpulkan dokumen-dokumen tentang orang-orang yang dicabut paspornya dan tidak bisa kembali ke Indonesia.

Apa yang mereka harapkan? Lima puluh tahun lebih berlalu dan mungkin pertanyaan lain muncul; Apakah status kewarganegaran sebagai WNI Indonesia masih diiinginkan oleh para eksil PKI ini? “Paspor bagi saya dan teman-teman, korban lain di luar negeri itu cuma buntut-buntutnya. Masalah prinsipil adalah harus diakui ada pelanggaran HAM baik di dalam negeri maupun luar negeri. Lah ini kan sampai sekarang kan tidak ada pengakuan secara resmi bahwa ada pelanggaran berat HAM berat tahun 65—66,” terang Kartaprawira, salah satu eksil PKI yang tinggal di Belanda.

Memang jika dilihat, semua pernyataan Sungkono, Chalik, Ibarruri, Sarmadji, Kartaprawira, dan eksil PKI lainnya bermuara pada tuntutan pengakuan dari Pemerintah atas apa yang terjadi pada 1965 dan 1966. “Yang pertama akui apa yang terjadi, seperti yang sudah diakui oleh Komnas, dan yang penting juga adalah rehabilitasi nama baik dan hak hak politik dari warga negara yang direnggut hak-haknya,” kata Isa, seorang eksil PKI di Belanda.

Lekat dalam ingatan peristiwa Nyonya Carmel Budiarjo, seorang anggota partai komunis Inggris yang disumpah pada 1948. Ia kemudian menjadi WNI setelah menikah dengan Budiarjo. Setelah G 30 S/PKI, ia ditahan di Indonesia dan bebas pada 1972.

Setelah menanggalkan status WNI dan kembali ke Inggris, ia mengaktifkan Amnesti Internasional Cabang London yang sejak 1976/1977 giat melancarkan kegiatan anti-Indonesia di luar negeri. Ia juga merupakan tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) TAPOL, yang didirikan pada 1973.

Pada 1994 LSM TAPOL London (Carmel Budiarjo dan Liem Sui Liong) di Amsterdam menayangkan film dengan judul “The Great Marxisme 1994 In All Indonesia” yang menggambarkan strategi Marxisme untuk menyelamatkan Indonesia.

Sekitar akhir 1994, Liem Sui Liong dan Yusfiq Hadjar (tokoh komunis) berupaya masuk kembali ke Indonesia untuk mengadakan kontak dengan LSM-LSM prokomunis di Indonesia. Keduanya berhasil ditangkap di Jakarta dan dideportasi kembali ke Belanda.

Strategi lain kaum komunis untuk menancapkan taringnya terlihat ketika pada 30 September 1995 di Amsterdam Belanda diluncurkan buku berjudul Tragedi Manusia dan Kemanusiaan oleh MR. Siregar, eks-PKI di luar negeri. Buku itu menguraikan pembunuhan besar-besaran terhadap anggota PKI. Hadir pada acara tersebut Prof. Wim Wertheim tokoh komunis Belanda yang sangat anti Indonesia.

Benang merah yang bisa ditarik dari apa yang mereka ungkapkan, mereka tidak merasa bersalah menganut ideologi komunisme hingga kini. Bahkan, seperti ada upaya untuk menghidupkannya kembali.  Mereka cuma memikirkan keadaan dirinya. Mereka tak mau tahu bahwa dengan ideologi yang mereka anut, sekian banyak rakyat Indonesia telah dibantai PKI.

Sungguh tepat perkatan al-Imam al-Barbahary,

Perumpamaan ahli bid’ah itu seperti kalajengking. Mereka menyembunyikan kepala dan badan mereka di dalam tanah dan mengeluarkan ekornya maka jika mereka telah mantap dengan posisinya maka mereka menyengat mangsanya. Demikian pula ahli bid’ah, mereka menyembunyikan bid’ah di tengah-tengah manusia lalu apabila mereka telah mantap dengan kedudukannya mereka sampaikan apa yang mereka inginkan.” (Thabaqat Hanabilah 2/44)

Sejatinya, mereka menciptakan bui mereka sendiri. Bui hawa nafsu yang mengungkung pikiran. Paham komunisme yang terbukti bertentangan dengan akal, fitrah, dan agama sedemikian meracuni  kalbu mereka hingga yang benar mereka anggap salah dan yang salah mereka anggap benar.

Memang, syubhat pemikiran hanya dapat terobati dengan mempelajari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam. Nestapanya, bahkan sampai di usia senja pun mereka—yang seharusnya lebih berpikir tentang bekal untuk akhirat—tetap bersikeras dengan ideologi komunisme.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Hadid: 16)

Wallahu a’lam bish-shawab. (Abu Luhaidan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *