Ada Cinta di Asrama Polisi

ANTIKOMUNISME.COM, TEMANGGUNG. Bukan peluru penuh nafsu. Bukan pula belati menghabisi. Perkuat silaturahmi. Berpijak di atas ilmu dan sunnah nabi. Menebar salam sesama muslim. Mempererat cinta-mencintai karena Illahi.

Massa memadati Masjid Ash Shohabah, kompleks kediaman prajurit Trunojoyo,  Gemoh, Temanggung, Ahad (23 Dzulhijah 1437 H / 25 September 2016). Mereka peserta Kajian Islam Ilmiah (dauroh) bertajuk, Indonesia Siaga PKI dan Teroris. Menghadirkan pembicara pengasuh Pondok Darus Salaf, Sukoharjo, Solo, Al Ustad Ayip Syafruddin.

Panitia dauroh setempat, Ustadz Farhan mengungkapkan, peserta hadir sekitar 270 orang. Seratus di antaranya ikhwan salafiyyin. Lainnya tamu undangan dan simpatisan. “Alhamdulillah, kajian berjalan lancar. Wabup Irawan Prasetyadi ikut mendukung. Permintaan beliau agar bisa diadakan dalam skala lebih besar,” katanya kepada antikomunisme.com, belum lama ini.

Respons positif pihak lain juga patut diapresiasi. Ustad Farhan menyebutkan selepas dauroh, ada permintaan buletin dakwah sunni-salafi. Ini menunjukan masyarakat semakin tertarik mengenal dakwah tauhid dan sunnah. “Paling penting, dakwah kita tersampaikan kepada mereka yang diharapkan bisa memberi dukungan,” ujarnya.

Pihak takmir Masjid Ash Shohabah, lanjut beliau, menyambut baik gelaran dauroh. Mereka mempersilahkan panitia untuk mengadakan kajian rutin di sana. “Ada tawaran dari takmir masjid. Alhamdulillah, kami diperbolehkan membuka kajian rutin,” ucapnya.

Sementara itu, Ustad Ayip menyoroti situasi yang ada sekarang. Terkait perkembangan radikalisme, terorisme, dan komunisme. Menurutnya, ketiga hal itu dibalut warna-warni kekerasan. “Jauh dari nilai-nilai Islam yang diajarkan Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam,” katanya.

Ustad Ayip menerangkan Islam adalah agama yang mengusung kasih sayang. Mengedepankan kelemahlembutan dan cinta. Figur utama teladan umat, Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam, merupakan sosok manusia yang senantiasa mewarnai kehidupan dengan menebar cinta kasih dan kelemahlembutan. “Sebagaimana dinyatakan oleh Allah, sungguh telah ada pada diri Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam, suri teladan yang baik (Al Ahzab: 21),” paparnya.

Sebuah hadits dalam Sahih Bukhari riwayat Abu Qatadah, lanjut Ustadz Ayip, suatu saat Nabi shallallahu’alahi wa sallam ingin salat dengan bacaan yang lama. Namun ketika menunaikan salat, terdengar tangis anak kecil. Nabi pun meringkas salat. “Kenapa nabi meringkas salat? Beliau shallallahu’alahi wa sallam khawatir, salat yang lama akan menjadikan ibu si anak gelisah, galau,” terang Ustadz yang pernah menimba ilmu di Yaman.

Dia menegaskan sosok pribadi yang agung memberi contoh kelemahlembutan, walau pada seorang ibu yang ikut dalam salat. Sementara yang dilakukan kelompok teror, jauh dari nilai-nilai Islami. Seperti dikerjakan mereka yang berpaham Khawarij; membunuh dan membuat kekacauan.

Ustadz Ayip menjelaskan Khawarij sudah ada sejak zaman khalifah Utsman bin Affan. Bahkan khalifah Utsman terbunuh saat sedang membaca Alqur’an. Beliau radhiyallahu’anhu ditikam oleh massa demonstran yang mengepung rumahnya. “Para demonstran itu digerakan oleh Abdullah bin Saba. Seorang Yahudi kelahiran Shan’a, Yaman. Dari dia pula lahir golongan Syiah Rafidhah yang kemudian mewujud menjadi negara Iran,” tuturnya.

Pemikiran Khawarij, lanjut Ustadz Ayip, menganjurkan pemberontakan terhadap penguasa yang sah. Mereka juga mudah mengkafirkan orang lain di luar kelompoknya (takfiri). Menghalakan darah sesama muslim. “Hingga orang yang terpandang seperti sahabat dekat nabi, contoh khalifah Ali bin Abi Thalib, dibunuh oleh Abdurahman bin Muljam yang berpemahaman Khawarij,” bebernya.

Ustadz Ayip menyebutkan kelompok Khawarij masa kini ada Al Qaeda, ISIS, sampai jaringannya di Indonesia. Perkembangan mereka di nusantara telah ada sejak Kartosuwiryo memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII). “ISIS berkembang di Indonesia karena sudah ada pemikirannya sejak dulu. Kaitannya seperti apa, memerlukan ulasan yang panjang,” ucapnya.

Secara singkat, terang Ustadz Ayip, Kartosuwiryo punya anak buah di ring satu. Selesai dia di eksekusi di salah satu pulau Kepulauan Seribu, sebagian anggota ring satu ditahan. Usai bebas, mereka konsolidasi. Di antara pentolan ring satu Kartosuwiryo ada H Ismail Pranoto (Hispran). Dia merekrut kader di Solo, salah satunya Abdullah Sungkar. Kemudian bermunculan para santri seperti Mukhlis, Ali Imron, dan lainnya. Lahir pula yang semisal; Amrozi dan Imam Samudera. “Mereka lalu belajar ke Afghanistan, saat kaum muslimin melawan Uni Soviet. Di sana belajar persenjataan dan merakit bom,” katanya.

Pemahaman atau ideologi yang tak kalah brutal adalah komunisme. Menurut Ustadz Ayip, ideologi kufur ini jelas menentang keesaan Allah. Kaum komunis juga menentang penguasa, dan menghalalkan pemberontakan. Seperti pada 1946 di Cirebon, pimpinan Mr Yusuf. Lanjut Oktober hingga Desember di tiga daerah; Brebes, Tegal, dan pemalang. Sampai peristiwa Madiun 1948 dan G-30/S/PKI 1965 di Jakarta.

“Sekarang kaum komunis coba membalikkan sejarah. Bahwa orang PKI yang dibantai. Ada upaya menggali kembali kuburan massal. Hingga ke forum internasional di Den Haag, Belanda, mengadakan pengadilan rakyat internasional. Masihkah belum cukupkah untuk mengatakan komunisme masih ada dan terus bergerak di Indonesia?” tandasnya. (abu ali rona)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *