Jejak Sang Arsitek

ANTIKOMUNISME.COM. Jembatan itu sederhana. Terletak tepat diatas sungai Serayu,  menghubungkan Kecamatan Rawalo dan Kebasen Banyumas. Panjang sekira 129 meter, terdiri dari tiga lengkungan yang masing masingnya berpanjang 42 meter.  Tidak ada yang mengira penggagasnya sama dengan orang yang mengusulkan dipancangkannya tiang utama Istora Senayan, dulu tempat diselenggarakannya Ganefo (Games of New Emerging Forces). Tokoh dibalik bangunan itu adalah Ir.Sukarno, arsitek Nasakom dan bapak dari Megawati mantan Presiden RI ke 5. Memang senyatanya persamaan dan perbedaan hanya bisa dicermati dengan menelisik waktu. Membuka lembar sejarah untuk belajar darinya.

************************

Ada yang tumbang dan ditumbangkan, itulah hukum revolusi. Jalan yang dikira singkat namun efeknya panjang dan berdarah-darah. Rusia mengalaminya beberapa kali.

Revolusi Merah

  1. Revolusi Februari 1917

Awalnya demonstrasi di Petrograd (sekarang Leningrad) menuntut ketersediaan pangan yang lalu berlanjut dengan pemogokan di sektor Industri. Penggeraknya kaum Kadet, Menshewiki, dan Bolshewiki.

Aliran-aliran tersebut adalah aliran liberal dan sosialis. Kaum liberal disebut Kadet (Konstitusional Demokrat). Aliran ini menghendaki Rusia menjadi kerajaan yang berundang-undang dasar. Beda dengan kaum sosialis yang menghendaki susunan masyarakat sosialis. Kaum sosialis merupakan anasir revolusioner dan terbagi lagi atas dua aliran: Menshewiki (moderat atau sosial demokrat) dan Bolshewiki (radikal, berkembang menjadi partai komunis). Golongan Menshewiki dipimpin oleh Georgi Plekhanou yang kemudian digantikan oleh Karensky. Adapun golongan Bolshewiki dipimpin oleh Lenin dan Trotsky (Bronstein). Targetnya Revolusi? Mengenyahkan Tsar Nicholas II. Dan mereka berhasil. Kaum Kadet naik ke tampuk pemerintahan berkalang korban revolusi berjumlah tidak sedikit.

Fatal, ketika kaum Kadet tidak bersegera mengadakan perubahan yang dituntut, Menshewiki di bawah pimpinan Karensky mengail di air keruh dengan tujuan menggulingkan kaum Kadet. Pastinya revolusi kali ini pun tidak jauh beda dengan yang pertama. Berdarah dan makan banyak korban.

Ketika serangan besar-besaran Rusia menghadapi Jerman (ketika Perang Dunia I) gagal, pemerintahan Menshewiki pun gantian yang dinilai gagal. Pucuk dicinta bagi  Bolshewiki untuk menyusun kekuatan guna merebut pemerintahan.

  1. Revolusi Oktober 1917

Bolshewiki mempersiapkan revolusi ini jauh hari sebelumnya dengan mengadakan wajib militer bagi para pekerja (cikal bakal Pengawal Merah) di bawah pimpinan Trotsky. Dilanjut dengan mendekati rakyat, mengimingi-iminginya dengan kedamaian kondisi dan pembagian tanah gratis. Maka selanjutnya bisa ditebak, tertipulah orang yang tertipu.

Pas tanggal 25 Oktober 1917 Lenin menyerukan Revolusi dengan target utama menyingkirkan pemerintah Menshewiki pimpinan Karensky. Sejarah anak manusia pun berulang. Dengan tipudaya dan darah, Bolshewiki berhasil meletakkan dasar pemerintahan Komunis di Rusia.

Revolusi Hijau

Di belahan bumi Timur, Revolusi menggulingkan penguasa dengan kedok “kebijaksanaan” pun ada. Bagi Iran, tanggal 11 Februari 1979 adalah hari “Revolusi Islam”. Sebelumnya tanggal 5 Februari Shahpur Bakhtiar sebagai pemerintahan terakhir yang diangkat oleh Shah Reza Pahlevi mundur dan melarikan diri. Dua tahun kemudian dia dibunuh di Paris.

Rentetan kejadian-kejadian itu bermula di tahun 1953, ketika PM Mossadegh, yang menasionalisasi sumber minyak Iran, digulingkan dan digantikan oleh militer yang memungkinkan kepulangan Shah Reza Pahlevi yang lari ke Roma.Paska kepulangannya, konfrontasi antara Shah dan oposisi meruncing. Pada tahun 60-an Shah Iran mencanangkan “Revolusi Putih”, memberlakukan reformasi pertanahan dan beberapa program lain. Namun terlambat, kritik terhadap Shah semakin lantang. Khomeini termasuk yang menentang ‘Revolusi Putih’. Dia menuduh Shah melanggar UU Islam. Apati dengan kritik, tahun 1964 Khomeini dikucilkan ke Turki, pindah ke Irak hingga akhirnya tahun 1978 menetap di Paris.

Dari pengasingan Khomeini membakar massa di Iran via rekaman kaset yang diselundupkan ke Iran. Akumulasi ketidakpuasan kepada Shah berikut “bahan bakar” yang disiramkan Khomeini memunculkan berbagai demonstrasi protes dan aksi kekerasan. Dalam bulan-bulan berikutnya jatuh ratusan korban tewas. Satu yang tercatat adalah peristiwa pembakaran bioskop di Abadan Agustus 1978. Korbannya 477 orang tewas. Demonstrasi dan protes terus merebak ke seluruh negeri.

Awal September banyak kota di Iran mulai diberlakukan hukum perang. Sementara di Teheran sendiri terjadi pertumpahan darah di kalangan demonstran setelah pihak militer memutuskan memakai langkah represif. Posisi Shah Iran semakin buruk. Bulan November 1978 militer mengambil-alih kekuasaan. Shah Iran sekali lagi berupaya menyelamatkan keadaan pada bulan Januari 1979, dengan mengangkat Shahpur Bakhtiar sebagai PM. Shah meninggalkan Iran tanggal 16 Januari untuk selamanya. Lalu diikuti tanggal 1 Februari 1979, Khomeini kembali dari pembuangannya di Perancis. Tepat tanggal 12 April paska mundurnya Bakhtiar, Khomeini memproklamirkan ‘Republik Islam (baca: Syi’ah) Iran’. Maka demikian sekali lagi revolusi ditegakkan dengan darah dan tumbal manusia.

************************

Menarik untuk dicermati. Dua bangunan revolusi  yang mengubah tatanan dunia menyisakan jejak-jejak arsitek perancangnya. Samar, namun masih dapat terbaca. Siapakah?

Bagian Dari Rancangan Besar

Dengung Revolusi Islam, yang sebenarnya kedok belaka, memang membuat kagum sebagian orang yang tidak memahami akar sejarah Iran. Lebih khusus, Yahudi di Iran.

Sejarah Yahudi di Iran, dilansir dari Iran Online, masuk ke Iran sejak tahun 727 SM. Mereka terdeportasi setelah kalah melawan Raja Asiria (Babilonia), Saragon II.

Yahudi pelarian dari Asiria ini kemudian banyak menetap di Isfahan. Para pelarian Yahudi di masa Babilonia inilah yang jadi bagian sejarah Persia.

Tidak heran, Isfahan kota terbesar ketiga di Iran kini dihuni lebih dari 2 juta jiwa, sebagian di antaranya memiliki garis keturunan Yahudi.

Sejak revolusi Islam Iran tahun 1979, Yahudi mendapat kesempatan mengirimkan perwakilannya di parlemen Iran. Kendati dalam alur waktu hubungan Yahudi – Pemerintah Iran naik turun namun hal itu tidak menghapus fakta bahwa Yahudi dan Iran tetap terkoneksi.

Bahkan Koran Israel Yediot Ahronot mengulas koneksi Yahudi – Syiah ini: Israel memiliki investasi lebih dari 30 miliar dolar di Iran dan kerjasama ekonomi yang besar. Dua ratus perusahaan minyak Israel berinvestasi di sektor energi di Iran.Otoritas keagamaan tertinggi untuk Yahudi Iran di Israel; Rabbi Yedidia Shofet diklaim memiliki kedekatan dengan komandan Korps Al-Quds Qassim Sulaimani, Ahmadinejad dan Khomenei. Jumlah sinagog Yahudi di Teheran mencapai 200 buah, sedangkan muslim Sunni di Teheran yang berjumlah lebih dari 3 juta tidak memiliki satu masjid pun di kota itu.

Rabi Yahudi Iran Oriel Devita Sal juga dekat dengan Ahmadinejad dan Khomenei, menjembatani hubungan antara Iran dan Israel.Fakta lainnya, lebih dari 17000 Yahudi tersebar di Kanada, Inggris dan Perancis adalah Yahudi Iran. Mereka menjadi anggota majelis parlemen Iran di negara-negara tersebut.  Inilah buah Revolusi ala Yahudi – Syiah

Semua itu tidak mengherankan, mengingat Bapak Pendiri agama Syiah ini adalah Abdullah bin Saba’ Al Yahudi Al Himyari, Yahudi tulen dari Shan’a yang berpura-pura masuk Islam. Dalam Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (8/479) dijelaskan makarnya ketika menyusup di tengah-tengah umat Islam.

Tampil di akhir masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, dia bersembunyi dibalik keislaman palsu, semangat amar ma’ruf nahi mungkar, dan bertopengkan tanassuk (giat beribadah). Namun sejatinya semua itu hanya untuk menutupi makar busuknya. Tak hanya akidah sesat yang dia tebarkan, provokasi massa pun dia galang untuk menjatuhkan Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu hingga akhirnya terbunuhlah beliau radhiyallahu ‘anhu. Di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia beralih strategi dengan menampakkan kecintaan dan loyalitas tinggi terhadap sang Khalifah dan ahlul bait. Dia dan komplotannya menamakan diri sebagai syi’atu Ali (para pengikut Ali). Maka dengan akar sejarah seperti itu tak heran simbiosis Yahudi – Syiah terjalin begitu erat.

Tiang Utama

Pun dalam Revolusi di Rusia. Meski sebagian orang mengetahui Revolusi Bolshevik terjadi November 1917, tetapi hanya sebagian kecil yang ingat bahwa Tsar sebenarnya turun tahta tujuh bulan sebelumnya. Dengan runtuhnya monarkhi Tsar Nicholas II, pemerintahan sementara dipegang Pangeran Lvov, yang ingin mendirikan pemerintah Rusia baru dengan mencontoh Amerika. Lvov kemudian digulingkan dan digantikan oleh Alexander Karensky yang mengaku dirinya Marxis.

Saat Tsar turun tahta, tiang utama penyokong Revolusi Bolshevik, yaitu Lenin dan Trotsky, bahkan tidak sedang berada di Rusia. Lenin hidup di Swiss sejak 1905 sedangkan Trotsky masih dalam pengasingan. Bekerja sebagai wartawan untuk sebuah surat kabar Komunis di New York.

Dalam The Surrender of An Empire, sejarawan Inggris Nesta Webster menuliskan: “Seandainya kelompok Bolshevik, begitulah mereka sering digambarkan, hanyalah kelompok revolusioner yang ingin menghancurkan harta kekayaan, pertama di Rusia, dan kemudian di setiap negara lain, maka umumnya mereka akan mendapati diri mereka perlawanan terorganisir dari para pemilik harta kekayaan di seluruh dunia, dan Moskow akan dengan cepat hancur. (Namun) Kelompok minoritas ini (anehnya) dapat merebut kekuasaan dan, setelah berkuasa, mempertahankan kekuasaan mereka hingga saat ini, (hal ini) karena (mereka) berutang pada beberapa pengaruh kuat di belakang mereka.”

Antony Sutton penulis buku berjudul “Wall Street And The Bolshevik Revolution” mencoba mengendus jejak arsitek dibalik Revolusi Bolshevik di Rusia. Peneliti untuk Hoover Institution for War, Revolution and Peace Stanford University ini mengatakan, ” Kita tahu bahwa revolusi tidak akan dapat berhasil tanpa organisasi dan uang. Rakyat yang miskin biasanya hanya menyediakan sedikit organisasi dan tidak menyediakan uang sama sekali.” Lalu darimana uangnya? Singkatnya ia ingin mengatakan bahwa Revolusi adalah “sebuah permainan besar” (a big game) yang meminjam istilah Nesta, ” .. (mereka) berutang pada beberapa pengaruh kuat di belakang mereka “.

Siapakah “.. pengaruh kuat” itu? Kita nukil Dr. Fahey, dalam bukunya  “The Rulers of Russia (Para Pemimpin Rusia)”, “Pada Oktober 1918, dari 388 anggota pemerintah revolusi, hanya 16 orang saja yang terdiri dari orang-orang Rusia. Semua sisanya adalah Yahudi dengan perkecualian ada satu orang negro/hitam. Kebanyakan mereka datang dari New York.”

Coba perhatikan seksama mereka yang terlibat pembunuhan Tsar Nicholas II dan pengikutnya:

  1. Jacob Yurovksy
  2. Sergei Medvedjev
  3. Lev Nikulin
  4. Peter Yermakov
  5. Fyodor Vaganov – Asal New York
  6. Jacob Sverdlov (Yankel Solomon) – terakhir ini adalah presiden pertama Uni Soviet.

Fakta yang mencengangkan

Fakta yang mencengangkan, mereka semua adalah Yahudi dari Ceko kecuali Fyodor Vaganov.

Tiang penyangga posisi strategis pada pemerintahan Uni Soviet pun tidak luput dari campur tangan Yahudi ini;

  1. Leon Bronstein (Trotsky) – komandan tempur Tentara Merah Soviet
  2. Grigory Apfelbaum (Zinoviev)- Direktur dari Polisi Rahasia Soviet.
  3. Maxim Wallach (Litvinov) – Menteri Luar negeri Soviet.
  4. Yuri Andropov – Direktur KGB (Dinas Rahasia)

Taruhlah semua analisa Nesta, Sutton dan lainnya bias kepentingan, namun ingatkah kita akan jalur keturunan Marx, Engels atau Stalin (bahkan Lenin dan Trotsky)? Benar. Mereka 100% keturunan Yahudi.

Daftar bisa teramat panjang. Namun cukuplah kita dengan nukilan Winston Churchill dalam London Illustrated Herald (8 Februari 1920), “Komunisme adalah rekacipta Yahudi belaka.”

Memang senyatanya persamaan dan perbedaan hanya bisa dicermati dengan menelisik waktu. Membuka lembar sejarah untuk belajar darinya. Jejak sang arsitek terbaca sudah ..

Wallahu ‘alam bishawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *