Muka Buruk si Jagal Tegal

ANTIKOMUNISME.COM. Serasa dongeng, tapi ini nyata. Bukan legenda, karena ia ada. Anak dermaga tak kenal Tuhan. Ombak waktu menyeret ceritanya pada kita.

Lupakan sejenak nikmat tahu Tegal, dan seduhan khas tehnya. Kita berkunjung ke lembar masa silam. Tahun 1926, serdadu Belanda berjibaku meredam pemberontakan. Petani, buruh, dan nelayan bersatu melawan pemerintah kolonial. Bangunan-bangunan hancur. Pembunuhan merajalela.

Kompeni mengerahkan kekuatan penuh. Mereka tak ingin terusir. Sudah merasa pemilik negeri. Lupa, sejatinya cuma pengontrak alias penjajah. Bule bersenjata bedil berhasil menghentikan kerusuhan. Pimpinan pemberontak ditangkap. Dia dikenal tukang sembelih orang. Siapa tak mendukung perjuangannya, pasti meregang nyawa. Darah segar bakal menyembur dari leher hingga kepala terpisah.

Tentara Londo siaga. Tak mau kejadian serupa terulang. Tokoh pemberontak diasingkan ke Boven Digul, Papua. Harapannya, dia mati diserang nyamuk malaria, atau sekarat kelaparan dalam jeruji.

Harapan itu sirna. Gembong pemberontak dan dua anak buahnya kabur. Penuh tipu daya, mereka lumpuhkan sipir Belanda. Lantas perahu orang diembat. Nekad melaut hingga pantai Tegal. Perilaku beringas membuat nyali mereka setajam pedang. Tak ciut mengarungi samudera. Sekalipun buta rasi bintang dan gelombang besar menghadang.

Siapa pentolan pemberontak yang lihai dan buas itu? Ia dijuluki Kutil, si muka buruk. Wajahku seakan menyimpan daging busuk dan kotoran menjijikan yang menyeruak melalui pori-pori…(Ayat-ayat yang Disembelih, hal. 15). Demikian deskripsi-naratif penulis buku tersebut tentang Kutil.

Guna meyakinkan diri kisah Kutil bukan cerita kosong yang dibawa angin, penulis bertanya pada seorang warga Tegal, Fatkhurohman (35). Dia jurnalis, sekaligus pemimpin redaksi Harian Umum Radar Tegal. Ia mengaku pernah mendengar kabar kekejaman Kutil. “Saya hanya pernah mendengar cerita Kutil dari orang tua. Lupa-lupa ingat, ceritanya…” ujarnya, memberi gambaran bahwa tokoh Kutil bukan fiktif. Para orang tua pernah tahu dan mendengar sepakterjang Kutil.

Kutil memupuk dendam sejak belia. Setumpuk kebencian tertuju pada Tuhan. Entah, apa salahku kepada-Nya, sehingga menciptakanku sebagai makhluk buruk rupa (hal. 15). Ia cenderung asosial. Psikolog menyebutnya introvert. Senang menyendiri. Memendam amarah dalam dada.

Mengenal Komunisme

Kutil menjauhi pergaulan sebaya. Dia senang menyepi ke pelabuhan, tak jauh dari rumah. Menjadi anak pantai. Berteman dengan burung camar dan bau anyir ikan. Aku memilih tumbuh sebagai anak liar di dermaga. Dunia pelabuhan mengenalkanku dengan manusia dari berbagai penjuru negeri. Di pelabuhan, aku bertemu para pendatang yang membawa pengetahuan bernama komunisme. Sebuah ideologi yang mampu menjadi muara atas segala keresahanku atas ketidakadilan dunia. (hal. 17)

Anak yang beranjak dewasa itupun teracuni virus komunisme. Sebuah virus sangat jahat. Berbahaya bagi setiap sendi kehidupan diri, keluarga, masyarakat, hingga bangsa dan negara. Benih-benih pemberontakan mulai tumbuh di hati dan kepalanya.
Dari para komunis, aku memiliki cita-cita untuk mengubah situasi. Dari para komunis yang mendidikku, aku menjadi berani untuk memberontak. Dari para komunis, aku mengenal konsep atheis (tidak bertuhan). (hal. 17)

Kutil adalah penjahat kelas paus. Jaringan bandit Tegal adalah sahabatnya. Dia membangun pengaruh kuat di tengah masyarakat lewat ragam kekerasan. Kawanpun segan. Lawan takut bukan kepalang. Mantra-mantra kerusuhan dan pembunuhan selalu dihembuskan. Siap mengganyang siapa penghadang.

Bisa ditebak, garis politik Kutil berlabuh di Partai Komunis Indonesia (PKI). Dia mencita-citakan tegaknya negara komunis pertama di Asia Tenggara dengan poros Brebes-Tegal-Pekalongan.

Menjadi komunis, Kutil makin sadis. Samurai berkarat saban hari berkelebat menyantap mangsa. Dia mabuk manifesto komunis. Tenggelam dalam khayal kekuasaan massa proletar. Ingin segera resmi dilantik dalam pemerintahan revolusi komunis di pesisir pantai utara Jawa. Tak ayal seluruh cara ia halalkan. Semua yang berseberangan disingkirkan. Bupati tua kutangkap. Kutelanjangi dan kuseret ke dalam penjara. Pejabat pemerintah lain dan polisi kuculik dan kubantai di jembatan Talang, Tegal. Aku pun melakukan penyembelihan kepada etnis xxx di Brebes, dan perempuan xxx boleh diperkosa. (hal. 23)

Di tingkat elit partai, Kutil menaruh hati pada perjuangan Tan Malaka. Ketika tokoh komunis internasional (Komintern) itu memberi maklumat gerakan Antiswapraja (anti-bangsawan), dia segera mendengar serta taat. “Aku akan menyembelih seluruh bangsawan dan pejabat yang menentang hidupnya komunisme di Tegal,” kata Kutil (hal. 21) – yang walau wajahnya buruk, Allah karuniakan seorang istri dan empat anak. Benar-benar tidak bersyukur.

Literatur sejarah mengungkap kekejian Kutil dan pendukungnya. Selain tercatat dalam buku Ayat-ayat yang Disembelih, salahsatu media warga internet (netizen), Kompasiana, juga mengulasnya. Bahkan dijelaskan, apa yang tertuang dalam buku cetakan pertama, Oktober 2015 tersebut, saduran dari skripsi Laela Khikmiyah dengan judul: “Kutil: Tokoh Lokal dalam Revolusi Sosial di Tegal tahun 1945-1946.” Skripsi program studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang, 2007, (kompasiana.com).

Akhir Petualangan

Proklamasi Indonesia berkumandang, 17 Agustus 1945. Sudah watak komunis pemberontak, Kutil tidak mengakui momen kemerdekaan tersebut. Ia kukuh ingin mendirikan negara komunis sendiri. Permusuhan kelompoknya pada kaum agamawan pun menjadi-jadi.

Gerombolan Kutil mulai membunuhi para kiai sejak 27 November 1945. Sebagai pembuka, Kiai Bisri dan Kiai Muchidin jadi target operasi. Dua tokoh muslimin daerah Talang, Tegal, itu diambil paksa dari pondok pesantren yang mereka pimpin. Mereka sempat ditahan dalam sebuah rumah tua, sebelum akhirnya digorok.

Berkuasa di Brebes dan Tegal, gerakan Kutil menyasar Pekalongan. Mereka ingin membuat kerusuhan di Kota Batik tersebut. Di tengah upaya menyerang Pekalongan, Kutil tertangkap pasukan Tentara Keamanan Rakyat. Dia kembali masuk bui, dan hampir dihukum mati.

Pertengahan 1947, Belanda melancarkan agresi militer I. Kompeni ingin kembali menjajah Indonesia. Perang mempertahankan kemerdekaan berkobar di Jawa dan Sumatera. Keadaan Tegal dan sekitar kacau. Kutil memanfaatkan keadaan ini untuk meloloskan diri.

Dia kabur ke Jakarta. Guna menyambung hidup, Kutil membuka jasa cukur rambut. Profesi lamanya saat muda. Pisau cukurnya tak hanya terampil merapikan rambut pelanggan, namun juga penuh pengalaman menyayat leher orang.

Tidak lama menghirup udara bebas, pada 1949 ada orang Slawi tak sengaja mengenali wajah Kutil. Ia pun kembali diburu dan berhasil dibekuk aparat keamanan negara. Kesohor sebagai pembunuh berdarah dingin, Kutil takut juga pada kematian. Terbukti 1 Agustus 1950, ia mengajukan pengurangan hukuman (grasi) ke Presiden Soekarno. Ajuan ditolak. Memasuki 5 Mei 1951, Kutil sampai di pantai Pekalongan. Bukan untuk memerahkan Pekalongan dengan panji palu-arit, namun siap menjemput ajal di depan regu tembak.

Jangan Salah Gaul

Kisah Kutil memberi pelajaran berharga. Bercermin dari keburukan orang lain, agar kita tak terjatuh pada kejelekan tersebut. Bagi setiap muslim, wajib memperhatikan dengan siapa anaknya berteman. Lingkungan seperti apa yang membesarkannya. Agar tidak menyesal kemudian hari.

Orang tua juga harus mengajarkan sikap menerima dan berprasangka baik pada Allah. Atas setiap takdir dan ketetapan-Nya. Baik terkait keadaan fisik maupun hal lain. Biasakan anak-anak banyak bersyukur sejak dini. Bahwa segala sesuatu adalah kehendak Allah.

Akibat salah pergaulan, dan minim perhatian orang tua, Kutil mengenal komunisme. Hingga perjalanan hidupnya menjadi komunis tulen yang haus darah. Hanya kepada Allah kita memohon perlindungan dan penjagaan dari pemikiran batil lagi menyimpang. (muhammad rona)

4 Comments

  1. Assalamu’alaikum warahmatullohi wabarakatuh.

    Masyaallah, informatif sekali artikelny.
    Sy selaku orang Tegal jadi bertambah wawasan atas sejarah ini, yang sy sendiri baru mengetahuiny detik ini.

    Jazaakumullahu khairan untuk informasiny.
    Semangat tebar faedahny.
    Admin, ijinkan sy share article ini di akun Fb sy.

    • Dengan memohon pertolongan kepada Allah semata, DIPERBOLEHKAN menyalin (copy) segala bentuk materi berupa artikel, gambar, audio, atau yang lainnya yang ada di dalam Situs ini untuk disebarkan lebih lanjut. Dengan SYARAT: Tidak diperuntukkan bagi kegiatan Komersial dan tanpa Menambah atau Mengurangi isi artikel serta tetap mencantumkan URL Sumber.

  2. Masya Allah ..
    Tegal ternyata memang sudah sedari dulu “mendunia”
    Sya wong tegal tulen sangat berterima kasih karena telah mendapatkan informasi/pelajaran *kutil yg sebelumnya belum pernah kudengar.
    Jazakumullahu khaira

    • masya Allah..,

      mengungkap wawasan yang tersembunyi. hingga orang tegal tulen kehilangan sejarah nasional yang mesty diingat akan sejarah komunis di tegal. sebagai pembelajaran untuk mengingat dan menggugahkembali sejarah suram kekejaman pki ditanah air indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *