Palu Arit di Sukabumi

ANTIKOMUNISME.COM, SUKABUMI. Pagi menjelang acara kajian ilmiyyah ahlussunnah wal jamaah, spanduk acara yang dipasang di lingkungan masjid ternyata hilang. Sedangkan spanduk acara lainnya masih terlihat terpasang. Menurut penuturan petugas masjid, spanduk masih terlihat terpasang di malam hari sebelumnya hingga seusai sholat shubuh.

“Kalau dilepas oleh pihak keluarga (keluarga pemilik masjid, Red.), semua spanduk tentu sudah tidak ada. Dulu pernah begitu, spanduk-spanduk yang terpasang (di lingkungan masjid, Red.) dilepas. Tapi kali ini cuma spanduk acara kita yang hilang, nggak tahu dilepas oleh siapa,” tutur Abu Royyan, salah seorang panitia acara.

Begitulah keanehan yang terjadi di kajian ilmiyyah ahlussunnah wal jamaah di Masjid Tijanul Anwar, Sukabumi. Acara yang berlangsung pada Ahad, 22 Muharram 1438 H bertepatan dengan 23 Oktober 2016, menghadirkan dua pemateri. Yakni, Al Ustadz Ayip Syafruddin dan Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf. Ada pun tema yang diangkat adalah Membangun Masyarakat Cinta Damai Tanpa Radikalisme, Terorisme dan Komunisme.

Ditengarai, tema tersebutlah yang memicu raibnya spanduk acara. Disinyalir ada pihak-pihak yang tidak suka dengan acara tersebut, terutama mereka yang mulai terpengaruh dengan ideologi komunisme. Buktinya, salah seorang pemuda di Sukabumi berani memasang profile picture di layanan WA di handphone-nya dengan foto DN Aidit.

“Tidak semata-mata dia memasang foto DN Aidit. Paling tidak dia memiliki kebanggaan atas apa yang diajarkan tokoh tersebut, yakni komunisme,” ujar Al Ustadz Ayip Syafruddin.

Sebagai sebuah ideologi, komunisme tidak akan pernah mati. Upaya-upaya untuk membangkitkan kembali pemikiran sesat tersebut kini mulai terang-terangan dilakukan. Ini artinya umat harus senantiasa diingatkan akan bahayanya paham tersebut.

Sejarah telah mencatat, bahwa PKI (Partai Komunis Indonesia) selalu melakukan pemberontakan-pemberontakan yang mengucurkan darah. Semisal pemberontakan di Tiga Kota (Tegal, Brebes dan Pemalang) pada Oktober-Desember 1945, pemberontakan di Cirebon pada Januari 1946. Dan yang menjadi sejarah kelam negeri ini adalah pemberontakan di Madiun 1948.

“Pemberontakan di Madiun lebih mengerikan lagi. Korban lebih banyak lagi dari kaum muslimin. Para kyai dibantai,” tutur Ustadz pengasuh Ma’had Darussalaf Sukoharjo itu.

Beliau kemudian menceritakan bagaimana biadabnya orang-orang PKI menghabisi kaum muslimin, tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan. Semisal peristiwa yang dikenal dengan Pembantaian Gorang Gareng. Ketika itu orang-orang dimasukkan ke dalam loji, rumah besar peninggalan Belanda, di sebuah kawasan pabrik gula. Mereka dimasukkan ke dalam kamar-kamar, kemudian diberondong dengan senapan dari balik jendela. Tercatat 108 orang tewas di pembantaian tersebut.

“Ada 3 orang yang Allah takdirkan selamat yang menjadi saksi hidup peristiwa itu. Ketika dia melangkah keluar, genangan darah di atas mata kaki,” ujar Ustadz alumni Darul Hadits – Dammaj, Yaman itu.

Mewaspadai kebangkitan paham komunisme

Untuk itulah Ustadz mewanti-wanti agar mewaspadai kebangkitan paham komunisme di negeri ini. Selain menyusup ke berbagai elemen masyarakat hingga pemerintahan, PKI juga dikenal konsolidasinya sangat cepat. “Tahun 1948 setelah kudeta di Madiun, PKI di pemilu tahun 1955 berhasil menempati posisi ke-4 dari belasan peserta pemilu. Di tahun 1965 sudah bisa menyusup ke Angkatan Darat dan Angkatan Udara,” papar Ustadz.

Di Pemilu 1955 itu PKI menduduki posisi keempat dengan prosentase sebesar 16% dari total suara. PKI berhasil mendulang 39 kursi (dari 257 kursi yang diperebutkan) dan 80 dari 524 kursi di Konstituante.

Hanya dalam waktu 7 tahun setelah kudeta yang gagal, PKI mampu meraih jumlah suara di pemilu sebanyak itu. Padahal di zaman itu alat komunikasi belumlah secanggih seperti sekarang. Bisa dibayangkan bagaimana pesatnya konsolidasi mereka sekarang…. (Abu Zakariyya Thabrani)

3 Comments

  1. afwan ada gambar makhlul hidup di bagian judulnya

  2. afwan barangkali ada gambar makhluk hidup di bagian judul dari artiket “Palu Arit di Sukabumi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *