Timur-Barat Terus Siaga

ANTIKOMUNISME.COM. Menyampaikan ilmu, berbekal takwa. Para ustad (asatidzah) ahlussunnah berkeliling negeri. Dari Papua ke tanah Rinjani. Pantai Bali sampai daratan seberang negeri Singa. Timur-barat siaga di atas rujukan agama.

Cahaya Islam terbit, kesyirikan terbenam. Meluruskan penyimpangan dan kesesatan. Mengingatkan umat dari bahaya radikalisme dan komunisme. Pengasuh Pondok Pesantren As Salafi, Jember, Al Ustad Luqman Ba’abduh hafizhahullah (semoga Allah azza wa jalla menjaganya), menjadi pemateri kajian Islam ilmiah di Masjid Nurul Islam, Batamindo Industry Park, Muka Kuning, Batam, Ahad (13 Shafar 1438 H / 13 November 2016).

Kajian mengangkat tema Bahaya Radikalisme dan Komunisme Terhadap Negara. Hadir sejumlah petinggi TNI/Polri pada kesempatan tersebut. Ada Wakapolresta Barelang, AKBP Hengky SIK MH, mewakili Kapolda Riau, Brigjen Pol Drs Sam Budigusdian MH. Danrem 033 Wira Pratama Tanjung Pinang, Brigjen TNI Fachri, diwakili Mayor Chk, Muhammad Ichrom. Lantamal IV Tanjung Pinang, Mayor Yudefri, dan Kapolsek Sei Beduk, AKP Suwitnyo beserta 20 personil yang bertugas mengamankan acara.

Pada sambutan, AKBP Hengky menyampaikan pesan Kapolda. Secara umum situasi Batam dan Kepri aman serta kondusif. Pihaknya berupaya bersama pemerintah, TNI dan ulama, menjaga keamanan wilayah. “Menyikapi masalah tidak dengan emosi dan kekerasan. Saat ini kita tengah sibuk mengatasi unjuk rasa buruh terkait WTO,” ucapnya seraya menyinggung Kepri merupakan salahsatu barometer provinsi di Indonesia. “Sehingga kita berharap tetap aman dan kondusif,” imbuhnya.

Dia mengungkapkan Kapolda dan Kapolres mengapresiasi kajian tersebut. Pihaknya berterimakasih atas peran masyarakat menjaga kondusifitas daerah. “Temanya bagus. Agar paham radikal tidak meluas. Menjadi pengantin dengan meledakkan diri, itu salah pengertian atau ketidaktahuan tentang jihad,” paparnya.

Sementara, Mayor Chk Muhammad Ichrom, menyampaikan Danrem Tanjung Pinang sebenarnya ingin datang langsung. Namun berhalangan, karena harus meninjau latihan taktis antar kecabangan (Lattis Ancab) TNI AD di Pulau Nantua, yang dihadiri presiden dan Panglima TNI.

Menurut Ichrom, aktivitas radikal dalam skup Indonesia terbagi menjadi tiga. Pertama, sayap kanan mengatasnamakan agama dalam pemberontakan Negara Islam Indonesia (NII/DI TII). Kedua, sayap kiri yaitu komunisme lewat Partai Komunis Indonesia (PKI). Peristiwa pemberontakan di Madiun tahun 1948, dan puncaknya 30 September 1965. Ketiga, radikalisme terkait separatisme. Mewujud dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Ichrom menjelaskan cikal-bakal radikalisme cukup banyak. Di antaranya bermotif ekonomi, pendidikan, dan tapal batas wilayah. Ia menyebutkan bila pendidikan yang jauh dari nilai-nilai moral dan agama, berpotensi melahirkan radikalisme.

Terkait batas wilayah, Batam yang berbatasan dengan negara lain dan daerah lain di Indonesia, sangat rentan dimasuki radikalisme. Pihaknya berusaha membangun sinergitas dengan masyarakat guna mencegah hal buruk terjadi. “Kalau radikalisme sudah masuk, narkoba bisa masuk. Mereka ingin generasi muda hancur, tidak ingin negara kita maju,” selidiknya.

Ustad Luqman Ba’abduh berharap kajian yang diadakan bisa menjadi bagian perwujudan amar ma’ruf nahi munkar. Sesuai firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104: Hendaklah ada di antara kalian orang yang mengajak kepada kebaikan, menyeru yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Beliau juga berharap majelis itu sebagai wujud amalan sesuai surat Al Maidah ayat 2: Hendaklah kamu saling menolong di atas kebaikan dan takwa.

Menurut ustad berkacamata tersebut radikalisme dan komunisme jadi topik penting yang perlu selalu disampaikan. Sebab radikalisme adalah bibit terorisme dengan segala bentuknya. Baik radikalisme kiri maupun kanan. “Radikalisme tidak sama dengan amar ma’ruf nahi munkar,” tegasnya.

Beliau menyebutkan amar ma’ruf nahi munkar diatur dalam Islam dengan mengendepankan hikmah dan kelembutan. Hadits yang sering kita dengar adalah upaya perubahan dengan tahapan-tahapan. Siapa melihat kemunkaran – nabi sedang menasihati umatnya – dalam akhlak, moral, akidah, rumah tangga sampai kehidupan masyarakat hendaklah merubah dengan tangan. “Maksudnya dengan kekuasaan. Ini hak penanggungjawab,” kata penulis buku Mereka Adalah Teroris.

Di masyarakat luas, lanjut Ustad Luqman, yang berwenang adalah pemerintah. Bukan tugas individu, pondok pesantren, atau takmir masjid. Tugas rakyat hanya melaporkan dengan data yang valid, jika melihat suatu kemungkaran di tengah lingkungannya.

Misal, ada kemungkaran di alun-alun. Kita datangi, dan langsung ambil alih masalah. “Ini tidak dibenarkan oleh aturan agama, maupun hukum positif negeri. Nanti bisa terjadi kegaduhan, sampai tingkat pembunuhan,” paparnya.

Kalau tidak mampu merubah dengan tangan, karena tidak berwenang, turun tahapannya. Bisa beri nasihat dengan lisan atau tulisan. Bila tidak bisa, ingkari dengan hati. Benci dan tidak ridha, kemungkaran ada di bumi Allah.

Rasulullah shallallahu’alahi wasallam  membimbing dalam upaya mencegah kemungkaran. Beliau  shallallahu’alahi wasallam menyatakan tidaklah sifat lembut – tidak kasar – diterapkan dan dipraktikan, maka akan memperindah suatu persoalan. “(masalah) Menjadi tidak berkembang. Kalau sifat lembut tidak diamalkan dalam amar ma’ruf nahi munkar, problem justru akan semakin jelek dan meluas,” tutur ustad yang lama menimba ilmu di Yaman.

Terkait komunisme, Ustad Luqman membeberkan, ideologi kufur itu berasal dari seorang Yahudi berkebangsaan Jerman, Karl Marx. Pondasi dasar komunisme mengedepankan segala sesuatu bersifat materi. Atas prinsip ini, para komunis menolak agama. Menurut mereka, prinsip agama meyakini yang immateri (mempercayai hal gaib).

“Akhirnya komunis menjadi anti-Tuhan. Di kalangan mereka dikenal istilah ‘agama adalah candu’. Agama diibaratkan narkoba yang memabukan manusia dengan angan-angan,” jelasnya.

Ustad Luqman mengingatkan agar umat jangan tertipu

Ustad Luqman mengingatkan agar umat jangan tertipu. Kalaupun ada tokoh-tokoh komunisme Indonesia yang dinilai masih beragama, seperti Tan Malaka dan Semaun yang merupakan tokoh Sarekat Islam. “Kita jangan tertipu rayuan kaum komunis. Komunisme tidak bertentangan dengan Islam, ini salah. Komunisme dimanapun, anti-agama,” tegasnya.

Boleh saja, lanjut beliau, promo para komunis mereka tidak anti-agama. Terbukti saat beberapa partai politik (parpol) mengunjungi Partai Komunis Cina (PKC) di Tiongkok. Rombongan dibawa ke pasar muslim, guna membuktikan negara komunis itu tidak memerangi agama.

“Dalam sebuah program, mereka terpaksa menerima agama. Untuk mencitrakan dan menampakan diri tidak memerangi agama. Guna menjaga persaingan dengan kapitalisme atau menarik dukungan masyarakat internasional,” paparnya. (muhammad rona)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *