Kuda Troya Pengacau Negeri

ANTIKOMUNISME.COM, MAGELANG. Terus waspadai penyusup. Mereka senantiasa beraksi. Tiba di sebuah daratan. Tanah pijakan muslim tersubur di dunia. Coba menghancurkan lawan, lewat kawan. Membuat gaduh, tanpa perlu berpeluh.

Mereka para penunggang yang lihai. Bukan memegang tali kekang kuda. Namun membentangkan siasat adu domba. Tengok kisah sejarah. Begitu gamblang perpecahan terjadi di negeri Teuku Umar.

Sejak masa kolonial hingga android terjual. Penyusup memang berwatak culas. Kerja keras membenturkan rakyat lewat pintu kelas. Jurang perbedaan dibuat makin menganga. Semangat huru-hara diembuskan. Kekacauan adalah harapan. Rasa persatuan (al jamaah) dibenamkan. Hingga terlupakan.

Nusantara tempo dulu. Di kepulauan ini pernah berdiri kerajaan Islam besar. Di antaranya Samudera Pasai, Banten, Cirebon, Mataram, Demak, Makassar, dan Ternate-Tidore. Beberapa dari kerajaan tersebut bubar. Pecah istana. Dua-tiga kubu berebut kuasa. Ulah tipu daya penyusup yang merobek tatanan pemerintahan.

Kuda troya bermain. Politik “belah bambu” digulirkan. Devide et impera. Menyerang benteng pertahanan lawan, tanpa peran di lapangan. Ini pula yang disoroti Al Ustad Muhammad bin Umar As Sewed hafizhahullah, saat menjadi pemateri acara Kajian Islam Ilmiah ahlussunnah wal jamaah di Masjid Agung An-Nuur, Magelang, Ahad lalu (4 Rabi’ul Awwal 1438 H / 4 Desember 2016).

Ustad Muhammad As Sewed mengungkapkan Indonesia merupakan negara besar berpenduduk mayoritas muslim. Kekayaan alam negeri ini melimpah. Tidak aneh, Indonesia kemudian dibidik banyak negara kafir untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

“Mereka ingin mengatur, mencaplok kekayaan yang ada di negeri kita. Mereka punya cara, punya jalan. Di antaranya menunggangi kelompok ekstrem, yang melampaui batas. Apa ekstrem kiri, atau ekstrem kanan,” katanya di hadapan masyarakat Magelang dan undangan pejabat setempat.

Ustad Muhammad As Sewed mencontohkan individu yang belajar agama kebablasan, paling mudah dijadikan kuda troya. Diarahkan memecah belah kaum muslimin. Tidak terkecuali paham komunisme yang antiagama. Lewat Partai Komunis Indonesia (PKI). Ini kendaraan yang memudahkan musuh-musuh Islam untuk menghancurkan negeri. “Sehingga tepat para pemecah belah yang kerap membuat kekacauan disebut GPK (Gerakan Pengacau Keamanan),” ujar pengasuh Pontren Dhiya’us Sunnah, Cirebon.

Beliau menjelaskan bila agama Islam mengajarkan kebersamaan atau al jamaah. Merujuk surat Ar Rum ayat 31-32: Jangan kalian seperti musyrikin. (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka sedangkan mereka berkelompok-kelompok. Setiap kelompok bangga dengan apa yang ada pada mereka.

“Umat terdahulu saling bunuh, saling bantai, saling berperang. Zaman jahiliah tidak ada agama (yang lurus). Ada banyak Tuhan. Terjadi kekacauan. Masing-masing bangga dengan apa yang mereka yang punya. Artinya (perpecahan) itu kebiasaan jahiliah,” paparnya.

Ustad Muhammad As Sewed menegaskan kaum muslimin adalah masyarakat terpimpin. Tidak liar. Tidak seperti masyarakat jahiliah. “Siapa yang kuat, dia yang menang,” ucapnya seraya menyebutkan masyarakat jahiliah tidak punya aturan. Tidak punya pemimpin.

Menurut beliau, perpecahan meliputi agama dan negara. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang mengingatkan umatnya: Atas kalian untuk tetap bersama al jamaah, dan hati-hati dari perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian, sedangkan dari orang yang berdua dia lebih jauh. Siapa ingin tengah-tengahnya (yang terbaiknya) surga, maka hendaklah tetap bersama jamaah.

 “Setelah umat ini diberi nikmat Alqur’an, dan diberi nikmat seorang rasul, gaya hidup masyarakat berubah. Kaum muslimin selalu hidup dibawah kepemimpinan penguasa muslim,” tutur redaktur ahli majalah Asy Syariah itu.

Ustad Muhammad As Sewed menerangkan al jamaah punya dua makna. Pertama, aku (nabi shallallahu’alahi wasallam) dan sahabatku. Hendaklah kita berupaya mengikuti jejak mereka. Berpegang dengan pegangan mereka. Kedua, kaum muslimin dan penguasa. Sebagaimana hadits yang dikeluarkan Imam Ahmad dan Imam Muslim dalam sahihnya: Siapa yang keluar dari ketaatan kepada  penguasa dan berpisah dari jamaah, maka dia mati dengan mati jahiliah.

Ulama besar mazhab Syafii, Imam Nawawi menyebutkan, mati jahiliah bermakna mati dalam keadaan bermaksiat. Tidak berpegang dengan sunnah. Melepaskan diri dari penguasa, maka seperti kaum jahiliah yang tidak punya pemimpin.

Alhamdulillah, agama ini tidak mengajarkan keliaran. Namun menjadi masyarakat yang terpimpin. Taat pada penguasa. Sabar terhadap penguasa. Tidak memisahkan diri dari penguasa,” jelasnya.

Turut hadir pada kajian tersebut Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Magelang, Endra Endah Wacana. Beliau  membacakan sambutan tertulis Bupati Magelang, Zainal Arifin SIP, yang berhalangan hadir.

Bupati menyatakan komunisme adalah ancaman serius bagi negara. Sementara radikalisme berbahaya bagi kondusifitas daerah. Bentuk komunisme di Indonesia, dengan kemunculan parpol berbau komunis. Tersebarnya logo palu arit di beberapa tempat.

“Masyarakat harus pintar memilah penyebaran informasi yang dilakukan aktivis komunis. Perlu kewaspadaan sejak dini. Seperti pesan Presiden Jokowi ke Kapolri, menyikapi hal demikian harus pakai pendekatan hukum. Larangan untuk PKI dan ajaran komunisme merujuk kepada TAP MPRS No 25/1966,” paparnya seraya berharap agar ulama terus membimbing umat demi kondusifitas wilayah.

Komandan Unit Intel Kodim 0705 Magelang, Lettu Tulus Widodo mengingatkan, harus selalu waspada terhadap komunisme dan radikalisme. Sebab berpotensi mengganggu keamanan negara. Pihaknya mengaku bangga pada Pondok Minhajus Sunnah Magelang, karena berperan aktif menangkal perkembangan paham radikalisme dan komunisme.

“Aparat keamanan tidak akan tinggal diam. Jika gerakan komunisme gaya baru dan radikalisme terus berkembang. Namun tanpa bantuan ulama, akan sulit mendeteksi sejak dini. Kita harus antisipasi radikal kiri dan radikal kanan,” ucapnya.

Alhamdulillah, kajian berjalan lancar dan aman. Semua bahagia dan gembira. Tampak kebersamaan antara ulama dan umaro (penguasa). Ustad Muhammad As Sewed mengungkapkan pertemuan tersebut merupakan kesempatan yang baik. Membahas perkara penting. Terkait kebersamaan bangsa Indonesia yang mayoritas rakyatnya muslimin. “Nikmat ini harus dijaga, disyukuri. Jangan sampai hilang dan hancur,” pesan ustad yang pernah menimba ilmu dari ulama Saudi Arabia, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. (muhammad rona)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *