Di Bawah Naungan Merah

Antikomunisme.com – Hidup di bawah naungan merah ternyata jauh dari yang dipropagandakan kader komunis. Bukan jalan bertabur bunga, apalagi surga bagi kaum miskin dan proletar. Tengoklah Rusia era Stalin hingga Brezhnev, Jerman Timur di bawah Honecker, atau Polandia di bawah Jaruzelski.

Sekira tahun 1929 Stalin menjadi kepala negara. Ia memperlakukan saingannya atau siapapun yang melawannya dengan kejam. Kebanyakan dihukum mati dengan cap musuh negara atau dijebloskan ke dalam kamp-kamp penjara. Stalin pula yang memasang Tirai Besi antara negara-negara blok Timur dan negara-negara blok Barat. Apa yang dituai? Krisis ekonomi yang berlanjut hingga era Brezhnev.

Pascajanji manis Revolusi Komunis, senyatanya buruh tidak menikmati apa yang mereka perjuangkan. Yang terjadi justru antrian panjang pembagian ransum, kelangkaan sembako, hingga pembatasan pembelian bahan bakar. Alih-alih “sama rasa sama rata”, negara komunis dalam praktiknya hanya menguntungkan sebagian orang yang duduk dalam lingkaran dalam diktator komunisme.

Angin harapan kebebasan berpikir di bawah komunisme dihembuskan oleh Mao di China dengan jargonnya, “Biarkan seratus bunga berkembang dan seratus pikiran yang berbeda-beda bersaing.”

Benarkah?

Faktanya, sekitar 700.000 anggota kaum intelektual ditangkap karena dirasa terlalu banyak mengkritik. Mereka disuruh bekerja paksa di daerah pedesaan.

Mao percaya akan sebuah revolusi yang kekal sifatnya. Ia juga percaya bahwa setiap revolusi pasti menghasilkan kaum kontra-revolusioner. Oleh karena itu, secara teratur ia memberantas dan menangkapi semua pihak yang ia anggap sebagai lawan politik dan para pengkhianat atau kaum kontra-revolusioner. Puncak kekejaman Mao adalah peristiwa yang dinamakan Revolusi Kebudayaan pada 1966.

Mereka (kader komunis) berdalih, itu kan bentuk negara komunis dahulu, sekarang beda! Negara komunis sekarang berhasil menjamin rakyatnya akan layanan kesehatan dan pendidikan gratis. Tengok saja Kuba.

Jawabnya? Ya. Bias jadi, benar ada jaminan kesehatan dan pendidikan gratis. Namun, bagaimana dengan sektor lain; keamanan, lapangan kerja, ketersediaan suku cadang industri, dan lainnya?

Apa yang berhasil terwujud hanyalah potongan kue kecil yang dibagikan agar rakyat diam dan berhenti menuntut. Faktanya, Korea Utara, Vietnam, bahkan glamour kebangkitan ekonomi China masih tetap menyisakan gap antarwarga negara. Yang miskin tetap miskin, yang kaya tetap kaya.

Saat jutaan warga Korea Utara menyongsong musim dingin dengan baju tipis dan kaos kaki berlubang, Kim Jong Un sibuk memilih caviar terbaik untuk makan malam.

Anggota Partai Komunis China berkendara dengan mobil mewah terbaru, sedangkan fakta di berbagai media menulis banyak WN China yang terlibat human trafficking. Mereka mengekspor rasnya—mayoritas secara illegal—ke negara lain. Apa alasan WN China kerja ke luar negeri jika komunisme mampu menyejahterakan mereka?

Pun dengan Rusia sekarang. Moskow masuk dalam daftar kota dengan tindak kriminalitas tinggi bersama Caracas, Venezuela, tempat Hugo Chavez bermukim.

Mereka beralibi, mengurus negara tidaklah mudah. Sesuatu yang mustahil untuk 100% menyejahterakan rakyat, bahkan di negara komunis paling ideal sekalipun.

Jawaban ini membuka tabir propaganda mereka sndiri. Kita katakan, “Jika konsepmu terbukti tidak sempurna, mengapa bersikeras harus komunisme?”

Mereka mengkritik kapitalisme yang hanya menguntungkan kelas borjuis saja. Jika sistem kapitalisme dan komunisme masih menyisakan sederet masalah, mengapa harus bersikeras dengan keduanya?

Walhasil, orang yang mengaku berakal pastinya akan berpikir seribu kali untuk memilih hidup di bawah naungan merah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *