Komunis Memang Ada dan Telah Bergerak

ANTIKOMUNISME.COM, TULUNGAGUNG. “Alhamdulillah, dauroh berjalan lancar, dan banyak masyarakat umum yang hadir,” begitu isi WA dari Gatot Subroto, salah seorang panitia kajian ilmiyyah ahlussunnah wal jamaah di Tulungagung beberapa waktu lalu, kepada redaksi www.antikomunisme.com.

Demikianlah gambaran ringkas kajian yang berlangsung pada Ahad, 29 Jumadil Awwal 1438H yang bertepatan dengan 26 Februari 2017M. Acara diselenggarakan di Masjid Jami’ Baitur Rahman, Jalan Pahlawan, Kec. Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur. Adalah Al Ustadz Qomar Su’aidi, Lc hafidzahullah sebagai pemateri dengan tema ‘Membentengi Umat dari Bahaya Komunis’.

Banyaknya jumlah masyarakat umum yang datang di acara tersebut patut disyukuri. “Yang datang berjumlah 200-an orang, hampir 50% adalah masyarakat biasa,” ujar Ikrimah rekan Gatot Subroto di kepanitiaan. “Kita pasang baliho acara di beberapa titik di kota, di jalur yang ramai dilewati orang. Panitia juga menyebarkan pamflet. Alhamdulillah animo masyarakat lumayan bagus.”

Gatot Subroto kemudian menyebutkan, tema kajian tentang komunisme sepertinya menjadi salah satu faktor pendorong yang kuat bagi masyarakat untuk mendatangi acara ini. Sebelumnya, pernah digelar juga pengajian tentang bahaya komunisme oleh pihak lain. Waktu itu, animo masyarakat terbilang tinggi meski sang pembicara, Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein, pada akhirnya batal hadir.

Tanda-tanda kebangkitan komunisme memang mulai terlihat di sekitar kota tersebut. “Di Tulungagung, pernah ada dua orang anak muda yang terlihat memakai kaos bergambar palu arit. Di Kediri, ada warung yang temboknya bergambar palu arit,” papar Ikrimah.

Karena itulah Al Ustadz Qomar Su’aidi, Lc. hafidzahullah menyarankan supaya kajian ilmiyyah ini mengangkat tema bahaya komunisme, meski sebelum itu panitia sempat mengusulkan untuk menggantinya. Apalagi komunisme dengan bendera PKI (Partai Komunis Indonesia) pernah berjaya di Tulungagung, Kediri, dan Blitar.

Di Tulungagung, PKI pernah berhasil membangun kekuatannya. Terbukti ketika penumpasan PKI pada 11 Oktober 1965, sekitar 3 ribu orang PKI bersenjata panah, kelewang, tombak, pedang, clurit, dan air keras, bergerombol di kawasan Pabrik Gula Mojopanggung. Di Kediri pada 13 Oktober 1965, PKI mempertontonkan kekuatannya di kecamatan Kepung yang melibatkan 10.000 orang anggotanya. Di Blitar, Tentara Nasional Indonesia harus menggelar operasi khusus yang dinamai Operasi Trisula di tahun 1968 untuk membasmi PKI yang membuat rusuh di Blitar Selatan. Dalam operasi tersebut dikerahkan 5 batalion ditambah 10 ribu orang Hansip dan warga Blitar Selatan.

Wajar jika animo masyarakat Tulungagung dan sekitarnya terhadap kajian tersebut terbilang tinggi. Mereka tentu tidak ingin teror komunisme kembali meledak di negeri ini, yang pahit getirnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat setempat di masa silam. “Ustadz Qomar dapat meyakinkan masyarakat bahwa komunis benar-benar ada. Dengan data-data yang telah disiapkan oleh Ustadz dan disampaikan dengan sedemikian rupa sehingga kita sadar bahwa komunis memang ada dan telah bergerak,” ujar Nursyamsi Hadianto, salah seorang peserta dari Blitar.

Pak Nursyamsi melanjutkan, “Dengan gamblang Ustadz Qomar menjelaskan bukti-bukti bahwa Allah itu ada. Jadi paham atheis itu tidak masuk akal dan sesat. Selanjutnya Ustadz Qomar juga memberikan bimbingan dalam menghadapi bahaya komunis.”

Tidak mengherankan jika salah seorang teman rombongan Pak Nursyamsi dari Blitar yang bernama H. Suhansyah mengaku bahwa kajian tersebut sangat dibutuhkan. Masyarakat perlu disadarkan akan bahaya komunis. Ia berharap sekali bahwa kajian serupa yang membahas bahaya komunisme bisa diselenggarakan di kota Blitar.

Al Ustadz Qomar Su’aidi, Lc. hafidzahullah pun memberikan komentar tersendiri. “Masya Allah, hampir tidak ada yang mengantuk. Mereka antusias dan hampir semuanya mengikuti kajian sampai selesai. Pak Wakapolsek sudah menemani dari sebelum acara dimulai, bahkan hingga acara selesai pun masih mau mengobrol bersama kami. Beliau sangat antusias dan senang. Dia bilang mau mengabarkan kepada yang lain tentang kajian itu dan beliau menekankan pentingnya pendidikan agama. Terutama pada usia SD dan SMP. Alhamdulillah….,” komentar Ustadz yang juga pengasuh Pondok Pesantren Daarul Atsar, Temanggung itu.

Alhamdulillah….. (Abu Zakariyya Tabroni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *