PROXY WAR, KUASAI NEGARA TANPA KIRIM BALA TENTARA

Antikomunisme.com – Menteri Pertahanan Republik Indonesia menilai, fenomena kemunculan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Indonesia adalah bagian proxy war atau perang proksi untuk menguasai suatu bangsa tanpa perlu mengirim pasukan militer.

Perang proksi dilakukan melalui proses cuci otak. Pemikiran seseorang diubah sesuai dengan kepentingan lawan. Apabila kemunculan LGBT saja sudah dinilai sebagai ancaman terhadap bangsa, sudah pasti geliat komunisme harus lebih diwaspadai.

Belajar dari perjalanan sejarah, sebelum Partai Komunis Indonesia (PKI) tumbuh meraksasa, proses cuci otak telah dilakukan secara sistematik. Berawal dari kehadiran seorang aktivis Belanda berhaluan Marxisme di Nusantara (saat itu masih bernama Hindia Belanda) bernama H.J.F.M Sneevliet. Melalui Sneevliet ajaran Marxisme mulai ditebar di Nusantara. Bahkan, Sneevliet berhasil menyusupkan paham Marxisme ke dalam tubuh organisasi Sarikat Islam (SI). Kader-kader SI, seperti Semaoen, berhasil dicuci otak sehingga menjadi kader SI berhaluan marxisme.

Keberhasilan Revolusi Bolshevik 1917 di Rusia—yang mengantar kaum komunis di bawah pimpinan Vladimir Lenin memegang kekuasaan—digunakan untuk mengarahkan kader-kader komunis di Nusantara untuk berpaling ke Rusia.

Selang beberapa tahun, terjadilah pengiriman orang-orang pribumi ke Rusia. Pengiriman para kader ini sebagai bagian proses cuci otak sehingga pergerakan komunis di Nusantara kelak dikendalikan oleh orang-orang pribumi. Melalui jaringan Komunis Internasional (Komintern), Rusia menanamkan paham Marxisme-Leninisme ke seluruh dunia. Kemudian muncullah nama-nama seperti Musso, D.N. Aidit, Tan Malaka, Amir Sjarifuddin sebagai lokomotif pergerakan komunis di Bumi Nusantara.

Sejarah kemudian mencatat, mereka yang telah mengalami proses cuci otak sehingga menjadi komunis, melakukan pengkhianatan terhadap bangsa. Komunis melakukan gerakan bersenjata guna menghabisi lawan-lawan politiknya. Siapa tidak sepaham, dilibas!

Itu dahulu. Kini, perang proksi tentu lebih canggih dan tersistematis. Masih ingat Revolusi Februari 1979 di Iran? Apabila Rusia dengan Revolusi Bolshevik 1917, melalui jaringan Komunis Internasional (Komintern), berhasil mengekspor paham komunisme ke seluruh dunia; Iran dengan Revolusi Februari 1979 yang digerakkan oleh Khomeini, pun menebarkan pemahaman Syiah ke seluruh dunia. Tak terkecuali di Indonesia.

Setelah Shah Iran Reza Pahlevi digulingkan oleh Khomeini, kekuasaan beralih kepada kaum Syiah. Untuk mengelabui masyarakat muslim dunia, revolusi yang dicanangkan dilabeli dengan “Revolusi Islam”. Tak heran apabila kemudian banyak kaum muslimin tertipu. Tahun 1980-an, di Indonesia, foto-foto Khomeini berbagai ukuran menyebar secara masif di kalangan para aktivis Islam. Khomeini menjadi simbol perlawanan saat itu. Khomeini difigurkan.

Sebagaimana halnya Revolusi Bolshevik di Rusia yang dijadikan rujukan oleh para kader komunis, yang lantas disusul pengiriman kader-kadernya ke Rusia; setelah revolusi di Iran berlangsung, pengiriman para aktivis Islam ke Iran pun dilakukan. Melalui jaringan yang dirancang kaum Syiah di Indonesia, program cuci otak terhadap para aktivis Islam dari Indonesia dilakukan secara sistematis.

Kader-kader Syiah yang kembali dari Iran lantas melakukan pergerakan. Sebagaimana orang-orang komunis berhasil menyusup ke dalam tubuh Sarikat Islam, kaum Syiah pun melakukan gerakan penyusupan ke tubuh partai, organisasi massa, bahkan ke lembaga kekuasaan di tingkat pusat.

Berbahayakah kaum Syiah sehingga selalu perlu diwaspadai? Apabila berkaca pada sejarah, perjalanan panjang kaum Syiah di muka bumi ini telah menorehkan luka mendalam pada tubuh kaum muslimin.

Betapa tidak. Kaum Syiah senantiasa memunculkan konflik. Melalui doktrin sesatnya, kaum Syiah memiliki keyakinan yang keji terhadap para sahabat Rasulullah n. Kaum Syiah pun merusak tatanan hidup bermasyarakat dan berkeluarga melalui ajaran nikah mut’ah. Kaum Syiah pun mengajarkan hidup boleh berdusta melalui ajaran taqiyah. Bahkan, taqiyah adalah ibadah.

Masih sekian banyak lagi kesesatan ajaran Syiah. Ajaran-ajaran tersebut merupakan bom waktu yang bisa menjadi pemicu konflik horisontal di tengah masyarakat. Bahkan, apabila telah memiliki kekuatan, kaum Syiah tak segan melakukan perebutan kekuasaan.

Pelajaran sejarah yang terbaik untuk menjadi cermin bangsa Indonesia adalah perjalanan kaum Syiah di Iran yang merebut kekuasaan dari Shah Iran, Reza Pahlevi. Di Yaman, kaum Hutsi (Syiah) berupaya yang melakukan gerakan pemberontakan bersenjata guna menggulingkan presiden yang sah. Demikian pula pergolakan kaum Syiah di Suriah.

Semua itu hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi bangsa ini. Haruskah menanti bangsa ini bersimbah darah lagi sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum komunis PKI dahulu?

Selain komunisme dan Syiah, jaringan liberal pun perlu diwaspadai. Paham liberalisme dalam memaknai syariat Islam sangat berbahaya bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini bisa ditinjau dari sisi:

1. Kaum muslimin di Indonesia merupakan populasi terbesar.

Jumlah mayoritas ini akan menjadi kekuatan bangsa yang luar biasa manakala kaum muslimin memiliki pemahaman yang benar terhadap agamanya. Pemahaman yang benar tentu saja pemahaman yang sesuai dengan ajaran Rasulullah n. Pemahaman yang merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana yang dipahami oleh salaf.

Ketika kaum muslimin memiliki pemahaman yang rusak terhadap agamanya, kelemahan akan meliputi kaum muslimin (kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari hal itu). Kelemahan kaum muslimin akan berdampak besar kepada kondisi bangsa.

Karena itu, untuk merusak bangsa ini, kaum imperialis menggunakan strategi perang proksi. Kaum cendekia dicuci otak melalui agen-agen mereka yang ada di Tanah Air. Ada yang diberangkatkan langsung ke negara imperialis dengan kamuflase “tugas belajar”. Kembali dari “tugas belajar”, ia menyuarakan berbagai keganjilan di tengah masyarakat. Mengusik stabilitas nasional.

Apa yang dilakukan oleh kaum liberal di Indonesia bisa mengancam kehidupan bermasyarakat. Lihatlah, dukungan kaum liberal terhadap LGBT. Tak mustahil kaum liberal akan mendukung kaum komunis dengan alasan hak asasi manusia, demokrasi, dan kebebasan. Menilik konsepsi berpikir kaum liberal, arah untuk memberi dukungan terhadap komunisme sangat terbuka. Allahu a’lam.

2. Apabila kaum muslimin telah jauh dari agamanya, kehancuran bakal mengintai. Pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala bisa terhambat.

Padahal kemerdekaan negara ini tak lepas dari pertolongan-Nya. Kemerdekaan bangsa ini adalah atas rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Jika bukan Allah subhanahu wa ta’ala yang membantu bangsa ini, siapa lagi yang bisa dijadikan penolong?

Sehebat apapun kekuatan dikerahkan, manusia tentu ada batasnya. Islam mengajarkan agar manusia tidak sombong di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Islam mengajarkan agar manusia taat kepada-Nya.

Kini, apa yang diajarkan oleh Islam, coba dirusak dengan pemahaman liberal. Kaum liberal, sebagai kaki tangan kepentingan asing, berupaya mereduksi kekuatan bangsa. Mereka melakukan pelemahan secara sistematis terhadap unsur penguat bangsa, yaitu kaum muslimin.

3. Karena itu, sudah semestinya rakyat Indonesia yang mayoritas kaum muslimin didorong untuk menjadi orang-orang yang lurus imannya.

Mereka harus didorong menjadi manusia-manusia beriman sebenar-benarnya, bukan menjadi manusia-manusia yang membangkang terhadap Yang Maha Pencipta. Inilah yang dilakukan kaum liberal. Mereka mendorong rakyat Indonesia menjadi kaum pendurhaka, LGBT. Semoga pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala meliputi bangsa ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (ar-Rum: 47)

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

Perang pemikiran akan terus berlangsung. Bala tentara setan akan terus berupaya merongrong kehidupan masyarakat. Sekarang mereka memperjuangkan LGBT yang didukung organisasi sayap mereka dari kalangan intelektual, seperti kaum liberal. Kalangan yang dididik oleh orientalis tentu memiliki agenda tersembunyi terhadap kaum muslimin dan bangsa ini.

Ada apakah sehingga mereka mendukung penuh LGBT? Padahal telah tampak secara nyata kerusakan yang ditimbulkan LGBT di tengah masyarakat. Komunis, liberalis, Syiah, radikalis, dan teroris senantiasa berupaya merusak kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, bekali umat dengan pemahaman Islam yang benar. Allahu a’lam.

(abulfaruq ayip syafruddin; Asy Syariah Edisi Khusus 01, hlm. 16—18)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *