Saya Anti-Syi’ah

ANTIKOMUNISME.COM, BANDUNG. Perjuangan mengkonter kebangkitan komunisme di Indonesia yang salah satunya digulirkan melalui Program Tebar Dakwah Majalah Asy Syariah, menyisakan beragam pengalaman yang unik dan menarik. Tidak datar dan mudah, tetapi penuh tantangan yang menguji kesabaran para relawan yang terjun langsung kelapangan. Terutama bagi mereka yang mendapat tugas untuk membagikan Majalah Asy Syariah edisi khusus Awas! Komunisme Bangkit Kembali ke dinas atau instansi pemerintah. Berbagai prasangka yang kurang mengenakkan hati, tertuju kepada para relawan. Ada yang dikira hendak membuat surat keterangan, ada pula yang disangka hendak meminta sumbangan. Ada pula yang berkomentar, ‘Ah, paling itu dibuat usaha’. Maksudnya, program tebar majalah yang gratis tersebut hanyalah kedok untuk mencari uang semata….

Salah satu pengalaman menarik dialami oleh Taufiq Ahmad dari Bandung. Suatu ketika lelaki kelahiran Bandung itu ditugaskan untuk membagikan Majalah AsySyariah edisi khusus Awas! Komunisme Bangkit Kembali ke Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung. Agar ceritanya utuh, kita persilakan lelaki yang biasa disapa dengan Ibn Ahmad itu untuk menceritakan sendiri pengalamannya tersebut. Mangga… (Abu Zakariyya Tabroni)

*****

Selasa pagi itu saya menuju Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung. Sampai di sana, saya segera memarkirkan motor di parkiran kemudian menuju pos sekuriti untuk melaporkan tujuan saya mendistribusikan Majalah Asy Syariah edisi khusus Awas! Komunisme Bangkit Kembali dariYayasan Ali Bin Abi Thalib, Bandung. Untuk mempersingkat waktu, saya serahkan surat pengantar dari yayasan.

Petugas sekuriti itu pun menerima surat pengantar tersebut dan membawanya ke ruangan bagian TU. Tak berselang lama, ia keluar dan menyuruh saya masuk ke ruangan tersebut.

“Assalaamu’alaykum Pak….,” sapa saya kepada kepada bapak yang sedang duduk di balik meja sembari memegang surat pengantar tadi.

“Wa’alaykumussalam…,” jawab beliau yang begitu melihat saya langsung berujar, “Waduh, Bapak kalau jualan majalah jangan ke rumah sakit!”

“Maaf, Pak,” jawab saya sembari mengambil kursi, kemudian mendudukinya berhadapan dengannya. “Maaf, Pak. Saya dari pondok pesantren ditugaskan untuk membagikan majalah ini secara gratis. Dibagikan secara cuma-Cuma terutama untuk masyarakat, TNI, Polri, dan instansi pemerintah, termasuk rumah sakit. Termasuk juga Rumah Sakit Mata Cicendo ini.”

“Oh begitu…,” kata bapak yang ternyata bernama Nurdin, yang menjabat sebagai Kabag TU di rumah sakit tersebut.

“Betul, Pak. Bahkan, majalah ini disebarkan ke seluruh Indonesia,” kata saya.

Dari raut wajahnya, sepertinya Pak Nurdin terlihat masih ragu. Apalagi ketika dia membaca nama yayasan yang tertera di kop surat pengantar.

“Yayasan Ali Bin Abi Thalib,” gumamnya. Sesaat kemudian meluncur pertanyaan dari beliau, “Kalau yayasan ini tidak berhubungan dengan Yayasan Muthahhari, kan?”

“Alhamdulillah, tidak Pak. Muthahhari kan salah satu yayasan Syi’ah di Bandung,” jawab saya.

“Ya, betul. Karena saya anti-Syi’ah. Dulu saya pernah ngaji sama Kang Jalal (Jalaludin Rahmat, salah satu dedengkot Syi’ah di Indonesia, -red.). Kalau dulu tidak terlihat (Syi’ahnya, -red.) karena taqiyah nya dan sekarang sudah jelas. Kalau Yayasan Ali Bin Abi Thalib tidak ada hubungannya dengan Muthahhari, saya akan terima,” ujarnya.

Oh ya, kalau visi dan misi majalah ini sama dengan visi dan misi masjid sini, Insya Allah saya mau berlangganan.”

Pak Nurdin kemudian berkenan menerima majalah yang saya bawa. Ia pun mengisi surat tanda terima dan menstempelnya.

“Baik Pak Nurdin. Terima kasih atas kerja samanya. Mudah-mudahan majalah ini bisa bermanfaat. Saya pamit karena masih melanjutkan pendistribusian majalah ke rumah sakit lain. Assalaamu’alaykum….,
pamit saya.

“Wa’alaykumussalam……,” jawab Pak Nurdin.

*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *