Islam Menolak Komunisme dan Kapitalisme

Antikomunisme.com – Islam berada di antara keduanya dan tidak membutuhkan keduanya. Komunisme memasung hak-hak kalangan atas. Kapitalisme memasung hak-hak kalangan bawah.

Islam tidak memasung hak-hak keduanya, tetapi justru memerhatikannya. Kalangan atas dan kalangan bawah, sama-sama mendapatkan haknya secara adil, sesuai kapasitas dan porsinya. Islam tidak menjadikan kalangan atas dan kalangan bawah sebagai dua tingkatan yang bermusuhan. Bahkan, Islam berupaya merapatkan keduanya dalam tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan yang indah dan menjadikan keduanya sebagai dua kekuatan yang saling melengkapi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (an-Nahl: 71)

Ayat ini gamblang membantah paham sosialisme yang menyatakan bahwa seseorang tidak boleh mendapatkan rezeki lebih banyak dari yang lainnya. Sebab, perbedaan pemberian rezeki memiliki hikmah tersendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyandingkan sahabat yang kaya dengan yang miskin dalam majelis-majelis beliau. Bahkan, dalam shalat berjamaah lima waktu yang merupakan momen bermunajat kepada Allah yang paling mulia dalam Islam, nyaris tak terbedakan antara si kaya dan si miskin. Semua berdiri sama tinggi dan sama rendah menghadap Allah subhanahu wa ta’ala. Nilai kemuliaan seseorang tidak terletak pada materi atau tingkatan sosialnya, tetapi pada ketakwaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Di dalam Islam, kekayaan berupa harta benda, industri, perusahaan, dan lain-lain merupakan rezeki yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan keadilan-Nya yang Mahasempurna, Allah subhanahu wa ta’ala mengatur pembagian rezeki tersebut kepada siapa saja yang Dia kehendaki sesuai dengan porsinya masing-masing. Ada yang diberi kelapangan dan ada pula yang diberi kesempitan. Semua itu sebagai tanda kekuasaan-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.” (az-Zumar: 52)

Islam selalu merekatkan hubungan antara kalangan atas dan kalangan bawah, si kaya dan si miskin. Tidak seperti kapitalisme yang memposisikan kalangan atas pada posisi yang tinggi, sementara kalangan bawah menjadi orang rendahan yang tak mungkin disandingkan. Tidak pula seperti komunisme yang memosisikan kalangan atas sebagai musuh yang harus diperangi dan diambil hartanya, sementara kalangan bawah menjadi kaum tertindas yang harus dibela dan diperjuangkan haknya.

Di antara bentuk bimbingan Islam yang indah dalam merekatkan hubungan antara kalangan atas dengan kalangan bawah adalah adanya zakat, infak, dan sedekah dengan berbagai jenisnya; zakat mal (harta), zakat peternakan, zakat hasil pertanian, rikaz, dan lain-lain. Ia dikeluarkan oleh si kaya lalu disalurkan kepada yang berhak mendapatkannya, termasuk orang-orang fakir dan miskin. Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menzalimi pemilik harta dalam hal pengambilan zakat.

Adanya kafarat (denda) karena pelanggaran tertentu dalam agama dengan cara membebaskan budak atau memberi makan fakir dan miskin juga merupakan sentuhan langsung terhadap kalangan bawah. Tuntunan memasak daging dengan kuah yang banyak supaya bisa berbagi dengan tetangga, menyantuni anak-anak yatim dan para janda, larangan membunuh anak-anak, wanita, dan orang lanjut usia (lansia) dalam pertempuran, hingga anjuran tebar senyum sebagai bentuk sedekah; merupakan bukti tentang perhatian Islam terhadap kalangan bawah.

Di sisi lain, Islam memberikan kebebasan bagi siapa saja untuk mencari rezeki. Segala yang dihasilkan dari jerih payah tersebut berupa harta benda, industri, perusahaan dan lain-lain pun sah menjadi hak miliknya. Dia berkewenangan untuk mengelolanya dan menikmati hasilnya. Ini menunjukkan bahwa Islam memerhatikan kalangan atas.

Namun, Islam mengharamkan kezaliman dan tindakan semena-mena. Islam tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan meraup keuntungan. Maka dari itu, Islam mengharamkan riba, suap, monopoli perdagangan, kecurangan, penimbunan barang dagangan agar harga melambung, dan tindakan liar lainnya. Ini menunjukkan bahwa Islam kontra-kapitalisme.

(Majalah Asy Syariah, Edisi Khusus 01, hlm. 6—8)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *