Dari Seorang Marxis Lahirlah PKI

Antikomunisme.com – Nama H.J.F.M. Sneevliet atau dikenal juga Henk Sneevliet tak bisa dilepaskan dari sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI). Pria berkebangsaan Belanda yang datang ke Hindia Belanda (sekarang Republik Indonesia) tahun 1913 adalah seorang berhaluan marxis.

Saat di Belanda, Sneevliet adalah anggota sebuah partai politik berhaluan komunis. Bahkan, melalui Sociaal Democratisch Arbeiders Partij (SDAP: Partai Buruh Sosial Demokrat), ia sempat menjadi anggota perwakilan rakyat.

Di Hindia Belanda, Sneevliet bekerja pada sebuah penerbitan surat kabar di Surabaya, Soerabajasche Handelsblad. Surat kabar ini milik sindikat perusahaan-perusahaan gula di Jawa Timur. Selang berapa lama ia pindah ke Semarang. Di Semarang inilah Sneevliet menemukan media untuk menebarkan paham marxisme. Saat itu, di Semarang, terdapat organisasi buruh kereta api yang bernama Vereniging van Spoor en Tramsweg Personeel (VSTP).

Melalui organisasi buruh kereta api inilah Sneevliet menanamkan pemahaman radikal marxis. Kondisi sosial politik yang menekan kaum buruh, serta jiwa imperialis kapitalis pemerintah Belanda di Hindia Belanda, menjadikan ajaran marxisme yang dibawa Sneevliet mendapat sambutan. Kaum buruh kereta api seakan mendapat daya untuk bangkit dari ketertindasan.

Mendapat kesempatan emas yang semacam ini, Sneevliet tak menyia-nyiakannya. Ia ajak rekan-rekannya yang berpaham marxis di negeri Belanda untuk tandang ke Hindia Belanda. Datanglah rekan-rekannya, J.A. Brandsteder, H.W. Dekker, dan P. Bergsma. Semuanya kader marxisme yang memiliki militansi tinggi.

Tak berselang lama dari kedatangan teman-temannya, pada 1914 mereka mendirikan organisasi bernama Indische Sociaal Democraticshe Vereniging (ISDV: Perhimpunan Sosial Demokrat Hindia Belanda). ISDV merupakan organisasi pertama berhaluan marxisme di Asia Tenggara. Organisasi inilah yang kelak menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sebagai media propaganda marxisme, diterbitkanlah majalah Het Vrije Woord (Suara Kebebasan). Selain itu, diterbitkan pula surat kabar Soeara Mardika dan Soeara Rakjat. Tiga media cetak yang mereka terbitkan merupakan sarana menanamkan paham komunisme kepada masyarakat. Mereka memahami benar arti penting sebuah media dalam melakukan aksi propaganda.

Metode infiltrasi (penyusupan) pun dilakukan. Mereka melakukan gerakan penyusupan ke dalam organisasi Sarikat Islam (SI). Akibat gerakan infiltrasi yang mereka lakukan, banyak kader SI yang kemudian menjadi penganut marxis. Di antara kader SI yang membelot dari SI adalah Semaoen dan Darsono. Nama kader SI yang disebutkan, di kemudian hari menjadi orang penting dalam membidani lahirnya PKI.

Dalam perkembangannya, ISDV yang menamakan dirinya sebagai kelompok merah, memperalat para serdadu dan pelaut untuk melakukan demonstrasi melawan polisi. Media cetak yang dikuasai ISDV pun menyajikan tulisan-tulisan yang menghasut massa. Tujuannya agar terjadi pemberontakan dan berkibarlah bendera merah (komunis).

Aksi kaum komunis yang tergabung dalam ISDV ini membangkitkan kemarahan pemerintah Hindia Belanda. Pihak pemerintah akhirnya menangkap Sneevliet dan teman-temannya, kemudian mengusirnya pulang ke negeri Belanda. Pengusiran paksa dilakukan berturutan antara tahun 1918—1923.

Setelah pengusiran paksa Sneevliet dan teman-temannya, ISDV dikendalikan kader komunis binaan Sneevliet, Semaoen dan Darsono. Sejak itu mulailah organisasi perhimpunan marxisme di Hindia Belanda secara murni dipegang kaum pribumi. Komunis di Hindia Belanda sudah tidak lagi berkulit bule. Sudah tidak lagi makan keju dan roti. Komunis di negeri jajahan Belanda, semenjak itu telah sama dengan putra pribumi. Sneevliet telah menanam kader yang berkulit sawo matang, bisa makan nasi, dan berbicara dengan bahasa ibunya. Komunis dan komunisme telah memasuki babak baru dalam sejarah di wilayah Nusantara.

Sebuah hasil pertemanan yang membawa dampak buruk. Tak hanya memberi keburukan kepada orang bersangkutan. Bahkan, berdampak negatif dalam skala yang sangat luas, yaitu skala kehidupan bangsa Indonesia.

Benarlah apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallah berkait pertemanan. Teman yang buruk diibaratkan pandai besi. Adapun pandai besi bisa menjadikan pakaian seseorang terbakar. Atau, minimalnya bisa mencium sesuatu yang beraroma buruk. Itulah pengibaratan bagi seseorang yang bergaul dengan teman yang buruk.

Komunis tak semata menebar aroma bau busuk, lebih dari itu menjadikan seseorang terjungkal ke arah kekafiran. Wal ‘iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala).

Sesungguhya permisalan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang buruk, seperti seorang pembawa minyak wangi dan pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi, bisa jadi ia memberimu (minyak wangi), bisa juga engkau membelinya dari dia, dan bisa jadi pula engkau cuma mendapati aromanya yang harum. Adapun pandai besi, bisa menjadikan pakaianmu terbakar dan bisa pula engkau akan dapati bau yang tak sedap.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)

Seiring perjalanan waktu, peta perkembangan global pun mengalami perubahan. Revolusi Bolshevik 1917 di Rusia yang dipimipin Vladimir Lenin telah memberi semangat melimpah bagi para penganut marxisme di berbagai belahan bumi. Tak terkecuali yang ada di Hindia Belanda saat itu. Berbagai konsolidasi pun dilakukan, termasuk melakukan konsolidasi struktural dalam partai.

Selang beberapa tahun dari revolusi di Rusia, setelah dirasa tepat untuk melakukan kongres, pada Juni 1924 diadakan kongres kali pertama kaum komunis di Jakarta. Pada kongres inilah nama PKI secara resmi disematkan menjadi nama partai untuk kaum pengusung marxisme. PKI pun lahir di bumi Nusantara.

Allahu a’lam.

(abulfaruq ayip syafruddin; Majalah Asy Syariah, Edisi Khusus 01, hlm. 19—20)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *