Pemberontakan PKI 1926—1946

Antikomunisme.com – Ketika Alimin dan Musso di Moskow, Uni Soviet, mereka menyampaikan rencana revolusi (perlawanan terhadap penguasa). Rencana itu didukung Trostsky sebagai Menteri Pertahanan Uni Soviet, namun ditolak Stalin.

Karenanya, Alimin dan Musso diminta tinggal di Uni Soviet selama tiga bulan untuk menjalani reindoktrinasi tentang teori perjuangan revolusioner. Stalin melarang pemberontakan diteruskan. Alimin dan Musso ditugaskan untuk membawa keputusan tersebut ke Hindia Belanda. Namun, ternyata Musso menolak keputusan Stalin dan tetap meneruskan pemberontakan. (Lihat Komunisme di Indonesia 1/34)

Lihatlah, betapa jaringan komunis internasional telah mencengkeram Nusantara. Tujuan perlawanan mereka terhadap pemerintah Hindia Belanda atau pemerintah Indonesia—setelah kemerdekaan—adalah menjadikan wilayah Nusantara sebagai negara berhaluan komunisme. Itulah cita-cita mereka.

Tengoklah perjalanan sejarah. Pemberontakan di wilayah Banten pada November 1926, kaum komunis berhasil memprovokasi massa buruh dan petani untuk memberontak dan membuat kerusuhan.

Nyaris bersamaan waktu, terjadi pula pemberontakan di wilayah Karesidenan Jakarta dan wilayah Priangan, Jawa Barat. Beriring waktunya dengan pemberontakan komunis di Solo. Jelang tutup tahun 1926, di Kediri meletus pula pemberontakan orang-orang komunis. Awal Januari 1927, orang-orang komunis membuat onar, berontak, dan membantai masyarakat Silungkang, Sumatra Barat.

Sekian banyak makar ditorehkan oleh para pengusung ideologi marxisme di nusantara. Sekian banyak pula korban berjatuhan, kerugian finansial dan kerusakan infrastruktur masyarakat. Apa yang dilakukan orang-orang komunis tak memberi kebaikan sedikit pun terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, terlebih kehidupan beragama. Komunisme hanya menjadikan situasi tidak kondusif. Fakta sejarah yang terpapar di atas adalah fakta yang terekam saat kemerdekaan Republik Indonesia belum diproklamirkan.

Pasca-kemerdekaan, komunis berulah juga. Antara Oktober—Desember 1945, dikenal “Peristiwa Tiga Daerah”. Para pengusung PKI berusaha melakukan pemberontakan untuk menguasai Tegal, Brebes, dan Pemalang. Mereka melakukan konsentrasi massa di Desa Talang, Kabupaten Tegal. Namun, upaya permufakatan jahat kaum komunis berhasil ditebas pasukan pemerintah.

Pungkas di “Peristiwa Tiga Daerah” ternyata tak menjerakan para pengusung ideologi anti agama ini. Februari 1946, mereka membuat aksi berontak di Cirebon. Upaya merebut kekuasaan pemerintahan daerah tak mampu dilakukan. Massa PKI dipukul mundur oleh pasukan pemerintah dan kaum muslimin.

Musso Datang, Madiun Meradang

Sekembali dari Rusia, Musso mengambil alih kendali partai. Tanggal 1 September 1948 Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI) kali pertama terbentuk. Musso dipilih sebagai Ketua PKI. Aroma Rusia pun masih kental tercium. Bara revolusi kaum marxis-leninis di Rusia masih kuat membakarnya. Keberhasilan kaum komunis di Rusia coba ingin diwujudkan di Indonesia. Musso pun ambil langkah.

Sejak Musso memegang tali kekang partai, wajah garang PKI semakin menguat. Para pimpinan partai sering melakukan orasi di hadapan massa. Isi orasi pun sarat muatan yang membakar emosi massa. Menghasut. Memberi janji-janji muluk. Mendiskreditkan pemerintah Republik Indonesia.

Yogyakarta, Sragen, Solo, dan Madiun adalah jalur aksi agitasi mereka. SOBSI, sebagai organisasi sayap PKI untuk para buruh, menggalang kekuatan massa buruh di Klaten, Jawa Tengah untuk mogok kerja. Tak hanya itu, kaum komunis pun melakukan aksi-aksi teror terhadap orang-orang yang tak segaris, seperti terhadap para pegawai pemerintah dan tokoh kaum muslimin di daerah.

Akibat berbagai aksi itu, situasi pun memanas. Kerusuhan meletus di Solo. Darah merah tertumpah. Kolonel Soetarto, Panglima Divisi IV/Panembahan Senopati, dibunuh. Setelah itu, dr. Moewardi pun diculik dan dibantai. Nama terakhir ini kemudian disematkan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah di Surakarta, RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang terletak di Jl. Kolonel Soetarto.

Saat perhatian terfokus ke Solo, di Madiun situasi menegang. Pada 18 September 1948, Musso memberi komando untuk menguasai Madiun dan sekitarnya. Operasi pemberontakan berhasil dilaksanakan. Hari itu Madiun dikuasai kaum komunis. Pasukan TNI terdesak ke pinggiran Madiun. Perkantoran pemerintah dan beberapa objek vital dikuasai komunis.

Proklamasi berdirinya negara “Republik Soviet Indonesia” segera dipublikasikan. Sebagai pimpinan pemberontakan, Musso membentuk Pemerintah Front Nasional. Tak berlangsung lama, komunis menguasai Karesidenan Madiun, Purwodadi, dan Cepu.

Pemberontakan ini memakan korban yang tidak sedikit. Di antara para korban pembantaian ialah para pejabat pemerintahan, TNI, polisi, dan tokoh masyarakat muslim. Sebuah sumur tua di Desa Soco, Kecamatan Benda, Kabupaten Magetan merupakan tempat kuburan massal korban pembantaian PKI. Ada 108 jenazah ditemukan, 78 jenazah dikenali, sedang sisanya tak bisa dikenali. Di antara korban, Bupati Magetan Soedibjo. Juga ditemukan korban pembantaian PKI di sebuah sumur di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Di tempat ini ada 17 nama korban, di antaranya Kolonel Marhadi. Adapun di sumur tua yang berada di Desa Cigrok ditemukan jenazah 22 orang. Di antaranya jenazah para kiai pengasuh pondok pesantren.

Pemberontakan PKI di Madiun tidak berlangsung lama. Dalam kurun kurang dari dua pekan, para pemberontak bertekuk lutut. Pasukan pemerintah membasmi anasir PKI. Bahkan, Musso ditembak mati saat melarikan diri ke luar kota Madiun. Para pelaku lainnya, seperti Amir Sjarifuddin, dieksekusi mati.

(abulfaruq ayip syafruddin; Majalah Asy Syariah Edisi Khusus 01, hlm. 22—24)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *