DUSTA! KOMUNIS MEMBELA KAUM TERTINDAS

Antikomunisme.com – Ada di antara kalangan muda yang tertarik marxisme lantaran pembelaannya terhadap kaum miskin tertindas. Mereka cemburu melihat kaum miskin dimarjinalkan. Mereka terusik melihat ketidakadilan menyelimuti kaum miskin yang dipinggirkan. Hatinya berontak melihat kaum kapitalis (pemilik modal) memeras para buruh.

Semangat pembelaannya meledak melihat para borjuis (tuan tanah) menyabot hak-hak petani guram. Ketertindasan telah membangkitkan jiwa untuk bangkit membela. Ketertindasan telah membakar kecemburuannya untuk melakukan perlawanan. Telapak tangan kiri yang terkepal diacungkan: lawan!

Itulah anak muda. Awal reformasi di negeri ini mereka tergabung dalam partai anak muda yang kekiri-kirian. Atas nama ketertindasan mereka lantang bersuara. Serdadu bersenjata pun mereka lawan. Seakan-akan kematian bagi mereka adalah sebuah kemuliaan.

Namun, setelah reformasi mereda… Setelah mereka tidak muda lagi semangatnya, setelah sepatu kulit mengkilat mereka kenakan, setelah kursi jabatan diduduki, setelah lembaran fulus mengelus mereka, tak ada lagi suara lantang melawan ketidakadilan. Lidah telah kelu. Tangan sudah tak mampu mengepal lagi. Mereka telah terpesona dan jatuh cinta dengan dunia. Dulu, kapitalis adalah lawannya. Kini, jadi teman kencannya. Dulu, borjuis adalah musuhnya. Kini, jadi sahabatnya.

Kaum buruh yang dahulu mereka eksploitasi, tak sedikit pun merasakan manis dunia yang telah mereka raih. Petani guram cuma bisa mengelus dada menikmati kemiskinan yang makin mengimpit. Tak ada lagi anak muda yang dahulu mengunjunginya, mengajak berunjuk rasa, berdemo yang konon katanya untuk memperjuangkan hak-haknya yang dikebiri.

Kaum buruh dan para petani kecil tentu tak memahami arti pertentangan kelas. Mereka adalah orang-orang polos yang tak pernah belajar beragitasi dalam sebuah pertarungan kelas. Mereka lugu.

Karena keluguannya, mereka dieksploitasi, digunakan sebagai alat politik. Mereka ditarungkan melawan kapitalis, melawan borjuis. Begitulah keadaan senyatanya. Jadi, jika komunis memperjuangkan kaum miskin, buruh, petani, rakyat kecil, pedagang kaki lima, sebenarnya hanya sebuah kedustaan. Rakyat kecil itu hanya sebagai alat untuk sebuah aksi pertentangan kelas ala mereka. Aksi politik.

Adakah kesejahteraan bagi rakyat kecil di alam komunis? Tidak!

Justru rakyat hidup terkekang. Berani mengkritisi partai komunis, berarti bersiap untuk ditindas. Dahulu, di Uni Soviet, berani buka suara melawan komunis, berarti bersiap dibuang ke kamp kerja paksa di Siberia. Di Korea Utara pun demikian. Para anti-komunis digelandang ke kamp konsentrasi di Kaechon.

Kenyataan bahwa komunisme tak berpihak kepada kaum proletar, rakyat kecil, dinyatakan oleh seorang wanita pendiri Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Pendiri organisasi sayap kewanitaan dalam tubuh PKI ini melihat secara langsung kehidupan mewah dan foya-foya para elite pengurus partai komunis di beberapa negara Eropa Timur, termasuk di negara komunis Uni Soviet.

Di sana ia melakukan riset dan penelitian selama beberapa tahun atas perintah Presiden Soekarno. Katanya, “Setelah dua tahun saya berkeliling ke negara-negara komunis, ternyata yang mereka gembar-gemborkan sebagai pembawa kesejahteraan rakyat hanya omong-kosong.” Sejak saat itu, ia tidak percaya lagi dengan ideologi komunis yang menjanjikan pemerataan, sama rasa, sama rata, bagi seluruh rakyat.

Komunis tidak pernah memberikan bukti atas janji-janjinya bagi kehidupan rakyat yang lebih baik. Di bawah rezim komunis penderitaan demi penderitaanlah yang dihadapi rakyat.

(abulfaruq ayip syafruddin; Majalah Asy Syariah Edisi Khusus 01, hlm. 26—27)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *