ISLAM SANGAT MEMERHATIKAN KAUM MISKIN DAN TERTINDAS

Antikomunisme.com – Yang senyatanya memperjuangkan kaum fakir dan miskin hanyalah Islam. Pembelaan Islam terhadap kaum papa adalah tanpa mengeksploitasi mereka. Apalagi dijadikan alat pertarungan kelas. Pembelaan Islam terhadap mereka dengan memberdayakannya, memberi perhatian, menyayangi, dan membantu mengatasi kesulitannya.

Bagi yang tak memiliki kepedulian terhadap fakir miskin, Islam memberi peringatan keras. Perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya,

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (al-Ma’un: 1—3)

Perhatikan baik-baik, orang yang tidak peduli terhadap anak yatim dan orang miskin digolongkan sebagai orang mendustakan hari akhir.

Perhatikan pula ayat berikut ini!

Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.” (adh-Dhuha: 9—10)

Menghardik pun tidak dibenarkan. Kalau begitu, siapa yang lebih menyayangi dan membela kaum miskin? Islam atau komunisme?

Dalam ayat yang lain Allah menghimbau kaum kaya untuk peduli dan membantu orang miskin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

Dan tahukah kamu jalan yang mendaki dan sukar itu? (Yaitu) melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling menasihati untuk bersabar dan berkasih sayang.” (al-Balad: 10—17)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sosok yang sangat penyayang dan pemurah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (at-Taubah: 128)

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan kala Jibril menemuinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapat keluhan dari kaum fakir. Sesungguhnya orang-orang berharta telah melampaui kaum fakir dalam beramal (sedekah dan membebaskan budak).

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasihat, “Maukah aku kabari sesuatu bilamana kalian mengamalkannya bisa menyamai (amalan) mereka? Tidak akan bisa menyamai amalan ini kecuali orang yang turut mengamalkan hal serupa ini.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setelah shalat masing-masing 33 kali.”

Kaum fakir itu pun mengamalkannya. Kemudian orang-orang berharta pun mengetahui hal itu. Apa yang diajarkan kepada kaum fakir itu diamalkan juga oleh orang-orang berharta.

Kaum fakir pun mengadukan kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata beliau,

Itulah karunia Allah diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Lihatlah, betapa bersemangat para sahabat untuk melakukan kebaikan. Mereka berpacu untuk bisa beramal saleh. Mereka berlomba mengejar urusan akhirat. Kecemburuan mereka terhadap para pemilik harta lantaran dengan harta yang ada bisa berzakat, bersedekah, dan berinfak. Mereka cemburu dalam urusan akhirat, bukan dalam hal harta. Mereka selalu merasa kurang dalam mengerjakan amal saleh.

Ini tentu sangat bertolak belakang dengan paham marxisme. Marxisme tak mengaitkan keberadaan materi untuk kehidupan akhirat. Mereka tak memiliki keimanan terhadap perkara yang gaib. Bagi mereka, kehidupan hanya di dunia.

(abulfaruq ayip syafruddin; Majalah Asy Syariah Edisi Khusus 01, hlm. 27—28)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *