Kedudukan Kaum Lemah Dalam Islam

Antikomunisme.com – Islam mengajarkan agar umatnya tidak meremehkan kaum lemah. Tak boleh merasa diri lebih dari yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan pertolongan dan rezeki dengan sebab kaum lemah. Ini dilatari karena doa, shalat, dan keikhlasan orang-orang yang lemah.

Pesan itu terungkap dalam hadits dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya, yang menyebutkan,

“Sesungguhnya Sa’d menyangka memiliki keutamaan dari sahabat lainnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala akan menolong umat ini dengan (kaum) yang lemah lantaran doa, shalat, dan keikhlasan mereka’.” (HR. an-Nasai, no. 3178)

Kepedulian Islam terhadap kaum yang lemah, tertindas, marjinal (terpinggirkan), sedemikian kuat. Bentuk bantuan materi bisa diwujudkan dalam bentuk zakat, infak, dan sedekah, atau bentuk bantuan lainnya. Islam senantiasa mendorong umatnya untuk tolong-menolong dalam perbuatan baik dan takwa. Islam tak menghendaki umatnya saling menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

“Tolong-menolonglah kalian dalam berbuat kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dan Allah subhanahu wa ta’ala akan membantu seorang hamba manakala hamba tersebut mau membantu saudaranya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah z)

Sesungguhnya, doktrin pertentangan kelas tak bisa diwujudkan manakala masyarakat tidak dipilah menjadi miskin-kaya, borjuis-proletar, atau kapitalis-proletar. Doktrin pertentangan kelas akan mengalami resistensi (penolakan) dari masyarakat, manakala masyarakat hidup harmoni. Yang kaya menolong yang miskin, yang miskin mengerti keadaan dirinya untuk bersabar dan membangun relasi baik terhadap yang kaya. Pemilik modal (kapitalis) tidak bersikap arogan terhadap kaum buruh atau petani. Begitu pula para buruh atau petani bisa membawa diri dalam bermuamalah. Manakala dibingkai akhlak yang baik, harmoni itu bisa terwujud dengan izin Allah.

Sebagai agama yang sempurna dan universal, Islam telah memberikan bimbingan tentang hal itu. Antara kaya dan miskin tidak terjadi jurang pemisah. Ketentuan zakat, sedekah, dan infak, di antara hikmahnya adalah membangun relasi yang sehat, penuh kasih, hangat, dan perhatian antara yang kaya dan miskin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

“Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang menahan diri dari meminta-minta.” (adz-Dzariyat: 19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berpesan untuk tidak meremehkan kaum yang lemah, memerhatikan dan peduli terhadap mereka. Berdasarkan hadits dari Mush’ab bin Sa’ad z, dari ayahnya,

Sesungguhnya ia (Sa’ad) menyangka memiliki kelebihan atas para sahabat lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَبِصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

“Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala akan menolong umat ini melalui (kaum) yang lemah karena doa, shalat, dan keikhlasan mereka.” (HR. an-Nasai, no. 3178)

Islam adalah pembela sejati kaum miskin, kaum lemah, dan tertindas. Cara yang ditempuh dalam agama mulia ini pun tidak sebagaimana dilakukan kaum marxis. Islam mengentaskan kaum papa melalui cara yang elegan. Tanpa harus mengeksploitasi kaum miskin. Tanpa harus mempertarungkannya. Tanpa harus memperalatnya untuk kepentingan politik, meraih suara, apalagi sampai mengorbankan kaum miskin tertindas.

Kaum yang tak berdaya benar-benar diperlakukan dengan sebaik-baiknya, diperlakukan dengan penuh manusiawi. Perlakuan-perlakuan itu didasari penuh keikhlasan. Upaya bantuan tersebut dilakukan karena Allah subhanahu wa ta’ala. Hanya mengharap balasan dari Yang Maha Pemurah, Allah subhanahu wa ta’ala.

Berbeda halnya dengan kaum marxis yang peduli kepada kaum miskin karena ada unsur kepentingan dunia. Bantuan yang sarat muatan politis. Jadi, adalah dusta, komunis membela kaum papa tertindas.

Allahu a’lam.

(abulfaruq ayip syafruddin; Majalah Asy Syariah Edisi Khusus 01, hlm. 28—29)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *