Pelanggaran HAM oleh PKI: Nopember 1948

Antikomunisme.com – Setelah gagal melakukan pemberontakan di Madiun, para pemberontak PKI berusaha lari. Mereka mencari tempat yang aman. Mereka berusaha menghindari kejaran pasukan pemerintah.

Di antara yang melarikan diri adalah para tokoh pemberontak PKI seperti, Musso (yang melarikan diri ke arah Ponorogo), Amir Sjarifoeddin, serta tokoh-tokoh Front Demokrasi Rakyat (FDR), yaitu Djokosoejono, Soeripno, Hardjono dan lainnya (melarikan diri ke arah utara). Mereka bergabung bersama pasukan pemberontak Maladi Joesoef yang juga berusaha lari menuju arah utara (Rembang dan sekitarnya).

FDR didirikan di Solo, 26 Februari 1948. FDR adalah jelmaan dari Fraksi Sayap Kiri yang terdiri dari PKI, Partai Sosialis (Amir Sjarifoeddin), Barisan Tani Indonesia (BTI), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) dan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Didirikan oleh Amir Sjarifoeddin, FDR merupakan penggerak utama pemberontakan di Madiun.

Saat lari menjauh dari Madiun menuju ke arah utara, tokoh-tokoh FDR menunggang kuda hasil rampasan dari penduduk yang dilaluinya. Sementara itu, para anggota pasukan lainnya menuntun sapi, kambing, kerbau, dan binatang piaraan lainnya. Binatang piaraan yang mereka bawa merupakan hasil rampasan dari rakyat. Saat melintas di jalan raya antara daerah Walikukun-Ngawi di hutan jati, mereka melakukan aksi penghadangan terhadap rakyat yang melewati daerah tersebut. Kondisi daerah yang sepi, jauh dari keramaian, kanan-kiri adalah hutan jati, menjadikan gerombolan para pemberontak leluasa melakukan aksinya.

Pada saat itu pula rombongan Ketua DPA, R.M.T.A Soerjo, beserta pejabat pemerintah lainnya lewat. Yang menyertai perjalanan dinas Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dari Jogjakarta menuju Jawa Timur, adalah Kombes Polisi Durjat (Kepala Polisi Jawa Timur), Kompol Polisi Soeroko (Kepala Polisi Karesidenan Bojonegoro), Ajun Inspektur Polisi Tingkat I Banoe Fatakoen dan Aspiran Komisaris Polisi Gatot Soewarjo. Dua nama terakhir dari Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur. Selain nama-nama tersebut, rombongan disertai pula dua orang dari TNI dan seorang pengemudi dari Brigade Mobil (Brimob).

Saat rombongan melintasi hutan jati, saat itulah Batalion PKI yang dikomandani Maladi Joesoef melakukan penyergapan. Rombongan pejabat pemerintah disuruh turun dari kendaraannya. Mereka dilucuti. Digiring ke satu tempat bernama Desa Gumelar, Ngawi. Dari delapan orang rombongan, dua di antaranya berhasil meloloskan diri. Banoe Fatakoen dan Gatot Soewarjo lolos dari lubang maut. Yang lain, termasuk Ketua DPA sekaligus mantan Gubernur Jawa Timur, Soerjo, dibunuh. Mereka mengalami penyiksaan sebelum dihabisi nyawanya oleh orang-orang PKI. 11 Nopember 1948 darah tertumpah di Ngawi, Jawa Timur.

Itulah yang dilakukan orang-orang PKI; menyiksa dan membunuh. Kejahatan yang melanggar HAM begitu transparan dilakukan oleh kaum komunis. Anehnya, kini mereka menuntut kepada pemerintah untuk meminta maaf, merehabilitasi, dan memberi ganti rugi.

Kejahatan apa lagi yang akan mereka perbuat terhadap rakyat dan bangsa Indonesia?

(abulfaruq ayip syafruddin; Majalah Asy Syariah Edisi Khusus No. 01, hlm. 33—34)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *