Pelanggaran HAM oleh PKI: September 1948

Antikomunisme.com – Berikut ini kesaksian KH. Raqib (tahun 2005), Imam Masjid Jami Baitus Salam Kabupaten Magetan, yang lolos dari peristiwa maut kekejaman orang-orang PKI.

Suatu malam pada bulan September 1948, setelah PKI melakukan pemberontakan di Madiun, tak kurang dari sepuluh orang mendatangi rumah Kiai Raqib. Secara paksa mereka membawa Kiai Raqib ke sebuah rumah di daerah Bangsri (masih wilayah Magetan).

“Apa tidak salah menahan saya? Saya cuma guru ngaji,” kata Kiai Raqib kepada orang-orang PKI yang menyantroni rumahnya.

Salah seorang dari mereka menyahut, “Justru karena kamu guru ngaji. Kamu yang menghalangi tujuan PKI.” Tak cuma Kiai Raqib yang diciduk, barang-barang yang di dalam rumahnya pun turut dirampok.

Kiai Raqib, yang saat itu usianya belum genap 20 tahun, dimasukkan ke satu rumah. Di rumah itu ternyata telah ada beberapa tawanan lainnya. Tangan Kiai Raqib diikat dengan tali dari bambu kasar tajam sehingga tangannya luka-luka. Ikatannya direntengkan dengan ikatan tawanan lainnya. Apabila satu di antara mereka buang air, tawanan yang satu renteng ikatan itu harus mengikutinya.

Tak berapa lama, Kiai Raqib dan tawanan lainnya dipindahkan ke Gorang Gareng, 12 km dari Bangsri. Tepatnya, dipindahkan ke sebuah loji (rumah besar peninggalan Belanda) yang terletak di Kompleks Pabrik Gula Gorang Gareng (sekarang Pabrik Gula Rejosari). Di dalam loji terdapat beberapa kamar berukuran 3x3m atau 4x4m.

Saat Kiai Raqib tiba di loji, ia melihat di dalam kamar-kamar itu telah dipenuhi tawanan. Mereka berdesak-desakan. Diperkirakan 40 sampai 45 orang tawanan berada di setiap kamar. Kiai Raqib sendiri bersama 18 tawanan lainnya ditempatkan dalam sebuah kamar yang lebih kecil ukurannya.

Para tawanan yang berada di loji secara bertahap dimasukkan ke dalam gerbong. Mereka diangkut dengan gerbong yang ditarik kereta lori ke Soco. Para tawanan dieksekusi PKI di Soco. Mayat-mayat mereka dimasukkan ke lubang sumur tua. Semoga mereka diwafatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di atas khusnul khatimah.

Begitulah cara PKI menghabisi orang-orang yang dianggap menentang dan tidak searah tujuannya. PKI ingin membentuk negara dengan landasan komunisme. Para kiai, pengasuh pondok pesantren, santri, dan komponen kaum muslimin lainnya adalah orang-orang yang sangat keras penentangannya terhadap rencana PKI tersebut. Karena itu, PKI sering melakukan aksi penculikan, penyiksaan, penghilangan paksa dan penghilangan nyawa kepada kaum muslimin.

Selain itu, orang-orang yang tidak setuju pendirian negara dengan dasar komunisme, seperti para pejabat pemerintahan, TNI, dan Polri, termasuk yang disasar PKI untuk dibantai dan dihilangkan nyawanya.

Untuk menumpas pemberontakan PKI di Madiun, pemerintah menurunkan pasukan TNI/Siliwangi. Batalyon Sambas, yang dipimpin Mayor Sambas, menyisir dari Tasikmadu, Karangpandan, Tawangmangu hingga Sarangan. Dari Sarangan langsung menerabas jalur Plaosan, Nitikan lalu masuk daerah Gorang Gareng.

Saat tiba di Gorang Gareng inilah Batalyon Sambas melakukan pembersihan terhadap orang-orang PKI beserta antek-anteknya. Termasuk di antaranya membebaskan sisa tawanan yang masih hidup di loji Kompleks Pabrik Gula Gorang Gareng. Saat melakukan pembersihan di salah satu loji tempat tawanan ditemukan kurang lebih 160 mayat. Darah yang tertumpah belum kering. Pertanda pembunuhan massal baru saja terjadi. Ini adalah kesaksian Mayjen (Purn) Mursjid (Lihat Bahaya Laten Komunisme di Indonesia Jilid II, Penumpasan Pemberontakan PKI, Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI; Jakarta, 1995 hlm. 32).

Kesaksian di atas bisa dikomparasikan dengan kesaksian KH. Raqib. Menurut Kiai Raqib, orang-orang PKI menembaki para tawanan di loji. Ia mendengar suara tembakan beruntun dari arah ruangan lain. Letusan demi letusan senjata api saling berpacu. Termasuk ruangan yang ditempatinya pun ditembaki dari arah luar. Laras panjang senjata dimasukkan melalui jendela lalu senjata itu menyalak berkali-kali. Tawanan di dalam kamar terkena tembakan. Mereka berguguran bersimbah darah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni kesalahan dan dosa mereka.

Kiai Raqib beserta dua temannya, yaitu Tsalis yang menjabat naib dan seorang tentara, masih sempat berlindung di bawah jendela. Mereka tidak terbidik laras senjata yang dimasukkan melalui jendela. Benarlah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya,

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (al-A’raf: 34)

Penembakan secara massal terhadap para tawanan di loji berlangsung sekitar jam 09.00 hingga 11.00 WIB. Setelah pembantaian massal oleh orang-orang PKI, suasana di sekitar loji menjadi hening. Sepi. “Saya beserta dua orang yang selamat bangkit dari timbunan mayat,” ujar Kiai Raqib. Setelah melihat sekeliling ruangan, betapa terkejut melihat darah yang terhambur. “Astaghfirullah, ruangan ini benar-benar banjir darah!” ungkapnya.

Dirinya masih ingat ketika Pasukan Siliwangi datang ke loji lewat tengah hari, anggota pasukan itu mendobrak pintu dari arah luar. Daun pintu itu sempal, roboh dan jatuh ke lantai. Daun pintu yang tebalnya sekira 4 cm itu mengapung di atas genangan darah. “Kaki saya sendiri merasakan genangan darah itu saat melangkah ke luar. Terasa hingga atas mata kaki,” kisahnya seraya terbata. (Lihat www.kudetapki.id/2005)

Orang-orang yang ditawan sekawanan kaum pemberontak komunis ada juga yang dibantai di Dusun Dadapan, Desa Bangsri, Kabupaten Magetan. Sepuluh korban keganasan antek-antek Musso dibenamkan ke dalam sumur tua.

Begitu pula korban lainnya. Di Desa Cigrok (sekarang Desa Kenongo Mulyo) 22 mayat akibat pembantaian sadis orang-orang PKI pun ditemukan. Nasib mereka sama; ditimbun di dalam lubang. Bahkan, tiga pengasuh pondok pesantren di Takeran dikubur hidup-hidup. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa mereka dan menerima amal saleh mereka.

Benar-benar sebuah kejahatan kemanusiaan yang tersistematis, terencana, dan menebar aroma teror yang sangat mencekam.

Kesunyian Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun terusik. Desa yang semula tenteram dan diliputi rasa aman, tiba-tiba berubah menjadi tempat yang angker. Pasalnya, para algojo PKI membantai dan menyembelih orang-orang yang dituduh bakal menghambat tujuan komunisasi Indonesia. Mereka yang dijadikan target pembantaian di antaranya dari kalangan TNI, Polri, anggota DPRD, kiai, pejabat pemerintahan, guru, dan anggota masyarakat lainnya.

Para korban dibawa ke sebuah hutan di Desa Kresek. Di tempat itu terdapat sumur tua. Para korban yang telah disakiti sebelumnya, setelah dibunuh dengan cara yang sadis, mayatnya dilempar ke dalam sumur tua. Kolonel Marhadi termasuk korban yang dibunuh secara keji oleh orang-orang PKI. Tercatat 17 nama yang ditemukan jasadnya di sumur tua Kresek.

Dari sekian peristiwa dengan sekian ratus korban berjatuhan, sungguh patut orang-orang PKI dinyatakan sebagai pelanggar HAM sejati. Mereka menculik, menahan, menyiksa, hingga menghilangkan nyawa manusia. Perbuatan orang-orang PKI secara nyata bertentangan dengan unsur-unsur yang ada pada pasal 33 ayat 1 dan 2 serta pasal 34 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Kejahatan kemanusiaan yang menorehkan goresan kelam dalam kehidupan bangsa Indonesia. Itulah hasil kaderisasi dari sebuah partai yang menghalalkan segala cara. Partai yang cuma mengejar ambisi kekuasaan. Partai tanpa moral. Partai yang membuang jauh-jauh nilai-nilai Islam. Partai yang memusuhi kaum muslimin. Partai yang mengancam eksistensi dan keutuhan negara Indonesia. Itulah PKI.

(abulfaruq ayip syafruddin; Majalah Asy Syariah Edisi Khusus No. 01, hlm. 31—33)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *